AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

BENCANA alam terjadi di mana-mana. Di dalam negeri sendiri bencana bukan hanya longsor dan banjir yang diakibatkan dari ‘rajinnya’ masyarakat kita merusak alam. Tapi ada lagi bencana yang ditimbulkan akibat salah kaprah dalam mengambil kebijakan. Kebijakan yang dalam tampilan muka ditujukan untuk kemakmuran bangsa tapi realitas sebenarnya didominasi oleh kepentingan kelompok elit demi ‘mengangkangi’ kekuasaan yang memang menggiurkan. Kekuasaan memang penuh selimut kenikmatan dan kelezatan.

Lihat saja bencana-bencana yang disebabkan demo para aktivis lantaran pemerintah dianggap nggak becus kerja; mulai dari macet, babak balur lantaran pendemo bentrok dengan sesama pendemo atau pendemo bentrok dengan aparat keamanan, bencana PHK dan matinya pengusaha kecil karena tak mampu bersaing dengan produk negara lain yang kian membanjiri Indonesia, bencana kematian kaum miskin lantaran berdesak-desakan antri sembako sementara para pemimpinnya hanya menyaksikan dari layar kaca, sampai bencana facebook yang menelan korban kaum muda yang terjerat cinta sesaat atau yang dikeluarkan dari sekolah lantaran menghina gurunya.

Bencana demi bencana yang menimpa alam ini sampai bencana yang menimpa kehidupan berbangsa dan bernegara apa disebabkan karena dunia sudah terlalu tua atau lantaran tak tahan akan ulah manusia yang senantiasa merusak dan menghancurkannya hanya karena ingin memenuhi hasrat kebinatangannya? Wallahu a’lam. Yang jelas, sebagai insan yang beragama kita diberikan pegangan agar dapat melalui hidup di dunia ini dengan baik sebagai bekal untuk kehidupan di alam akhirat. Misalnya, bagaimana kita dianjurkan untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar (senantiasa menegakkan kebajikan dan memerangi kejahatan) dalam melakoni hidup ini.

Amar ma’ruf, artinya jelas kita diperintahkan untuk menegakkan kebajikan dulu. Berawal dari diri sendiri, lalu kepada keluarga atau sanak saudara, yang akhirnya melebar kepada lingkungan. Setelah semua itu kita upayakan dengan maksimal, baru kita diminta untuk melakukan nahi munkar, yakni memerangi kejahatan. Perintah yang dapat dipahami dengan mudah oleh logika. Karena apabila kita telah berusaha untuk berbuat baik atau berupaya untuk menegakkan kebajikan sebenarnya pada saat yang sama kita telah memerangi kejahatan. Pada saat kita menegakkan kebajikan, itu sama artinya kita telah menang memerangi kejahatan yang selalu dibisikan setan kepada kita untuk kita lakukan.

Hanya sayangnya, fenomena yang terjadi saat ini, pada bangsa ini, pada masyarakat ini, adalah berteriak lantang melakukan nahi munkar dengan meninggalkan amar ma’ruf. Semuanya mengkritik pihak lain dengan alibi menyuarakan kebenaran untuk kemaslahatan bersama. Tapi alpa dalam melakukan amar ma’ruf sehingga berjuang melakukan nahi munkar kerap tergelicir pada pola-pola yang jauh dari kesan baik. Karena secara logika pun sulit diterima kita bisa menjadi baik kalau sudah mampu membuat orang berlaku baik.

Bagaimana kita bisa menyuruh orang berlaku baik sementara cara yang kita lakukan kurang atau bahkan tidak baik?

Sebelum semuanya terlambat, mari kita belajar dan berlatih diri untuk menjadi insan yang bijak. Bijak dalam berpendapat, bijak dalam mengatasi persoalan, dan bijak pula dalam mengambil setiap keputusan agar tidak menumbuhkan sesal di kemudian hari. Mari kita selalu berupaya untuk saling mengingati dalam kebaikan dan kebenaran yang diakhiri dengan kesabaran. Karena sebagai insan yang dhoif kita hanya bisa berupaya, tetapi penentuan akhir tetap terjadi sejalan dengan kehendak Sang Khalik. Upaya yang dapat kita lakukan adalah selalu dan selalu berbuat baik untuk orang lain. Karena kebaikan yang kita tebarkan itu akan kembali pada diri kita juga.

Lantaran sebagai insan yang lemah dan dhoif kita ini penuh berlumuran dosa dan kenistaan, tak ada yang lebih baik selain kita memperbanyak ibadah dan salawat agar mendapat rahmat dan syafaatnya. Insya Allah, dengan upaya-upaya ber-amar ma’ruf ini kita juga sudah melaksanakan upaya nahi munkar. Sehingga apa yang kita lakukan pada hakikatnya adalah ber-amar ma’ruf nahi munkar, bukan mendahulukan nahi munkar sehingga tak mampu menjalankan amar ma’ruf.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: