Forkabi Harus Memakai Sistem Manajemen Organisasi Modern Jika Ingin Maju

Ir. Alidrus

Dalam organisasi ada asas manfaat. Tinggal bagaimana pola manajemen dimainkan pengurus agar asas mafaat tersebut dapat menjadi peluang dalam meningkatkan SDM pengurus dan anggota yang akan bermuara pada perkembangan dan kemajuan organisasi.

Bicara peluang sebuah ormas, Forkabi sebagai ormas etnis Betawi memiliki peluang besar saat Pemilu Legislatif (Pileg) lalu. Bayangkan saja, tiga Ketua DPD Forkabi, Direktur LBH Forkabi, dan pengurus lainnya tampil sebagai caleg. Sayangnya, peluang itu kurang bisa dimanfaatkan Forkabi dalam memperjuangan kader-kader terbaiknya untuk dapat menduduki kursi di legislatif. Untuk mengetahui apa dan mengapa Forkabi tidak bisa mengambil peluang itu, Fadilah Fahmi dari Batavia News menemui Ir. Alidrus selaku Sekretaris DPD Forkabi Jakarta Selatan yang juga muncul sebagai caleg pada Pileg lalu. Berikut petikan wawancara selengkapnya:

Menurut Abang apa masalah yang membuat Forkabi gagal mengusung kader-kader terbaiknya menduduki kursi legislatif?

Sebagai salah seorang caleg yang juga kader Forkabi pada Pileg lalu, tentu saya memiliki pandangan sendiri tentang eksistensi Forkabi sebagai sebuah ormas etnis Betawi. Pandangan yang menyadarkan saya bahwa Forkabi bukanlah suatu jaminan untuk menjaring suara meski Jakarta Selatan ini memiliki lebih dari 90.000 anggota.

Saya menyadari Forkabi ada, tapi saya melihat Forkabi itu hanya sebatas label masa yang tidak terukur, itu yang pertama. Kedua, saya juga menyadari sejak awal bahwa Forkabi secara struktural organisasi ini betul-betul belum bisa dikatakan dewasa. Artinya, ada struktur tapi mesinnya tidak jalan. Memang agak mengecewakan kalau dari awal kita prediksi Forkabi bisa mendorong dan memberikan satu jaminan pada kadernya yang tampil menjadi caleg.

Kalau saat ini ada yang bilang bahwa Forkabi itu masih seperti buih di lautan, saya setuju. Di mana ketika dibutuhkan dia buyar. Realitas itulah yang melahirkan kesadaran bahwa sampai detik kemarin saat pencalegan saya tidak seratus persen bertumpu pada Forkabi dalam masalah dukungan suara. Kenapa? Karena memang kondisi riil yang ada; mesin organisasi Forkabi tidak berjalan dengan baik.

Apa yang membuat Abang bisa mengatakan mesin organisasi Forkabi tidak berjalan dengan baik?

Saya yakin bahwa kita semua menyadari bahwa Forkabi itu banyak tapi tidak terukur. Ketidak terukuran itu dapat dibuktikan dari tidak adanya databest yang jelas untuk mengukur aktifitas pengurus Forkabi mulai dari tingkat tertinggi DPP sampai tingkat kepengurusan terendah di tingkat RW yaitu Sub Ranting.

Kalau kita bicara kesuksesan kerja Forkabi dalam Pilkada lalu, itu dikarenakan Forkabi sebagai penggerak. Karena tujuan kita satu bagaimana putra Betawi bisa menjadi gubernur di kampung halamannya sendiri. Forkabi saat itu sebagai roda penggerak yang menggerakkan semua warga, baik penduduk asli maupun yang pendatang. Ini harus kita akui, bahwa Forkabi pada saat itu sebagai penggerak, penyumbang suara dari berbagai macam lapisan organisasi maupun masyarakat yang ada di Jakarta.

Tapi kalau Forkabi gerakkannya khusus untuk Forkabi tentunya sulit untuk menang karena kebesarannya tidak terukur jelas. Bisa saja hanya besar gaungnya alias besar tanpa isi sehingga ada istilah ibarat buih di lautan. Kita bilang banyak, banyaknya itu seperti apa sih? Dari segi administrasi KTA yang ada bisa jadi Fortkabi itu besar karena banyaknya KTA yang keluar. Tapi, bicara orang yang benar-benar merasa dirinya Forkabi itukan tidak jelas. Ketika Pilkada, kita bukan bicara partai tapi bicara putra Betawi yang ingin naik, ini kan masih eporia.

Kalau bicara Forkabi, saya tidak yakin putra Betawi jadi gubernur karena suara Forkabi banyak. Tapi kalau kita bicara Forkabi sebagai penggerak hingga bisa menyatukan suara pada pilgub itu bisa dikatakan iya. Dan konteks Pilkada amat berbeda dengan konteks Pileg dalam persoalan menjaring suara. Karena saat ini kita bicara pileg, kita bicara partai. Bicara partai, partai banyak di mana masing-masing kader Forkabi tadi muncul dari berbagai macam partai. Partai inikan sudah bicara gerakan politik, yang mana masing-masing akan bergerak optimal untuk mencapai tujuan politiknya.

Dan, kalau kita lihat dari sejarah, orang Betawi itu kan sudah diobok-obok oleh berbagai macam partai. Kita juga harus bisa melihat munculnya tokoh Forkabi tadi di kendaraan partai yang subur atau tidak? Artinya, banyak subtansinya. Pertama, banyak kader Forkabi yang ada di berbagai macam partai. Kedua, bicara orang Forkabi sebagai orang Betawi juga tidak tepat benar karena tidak sedikit juga orang Betawi yang bukan Forkabi. Karenanya bila kemarin caleg yang berasal dari Forkabi diasumsikan Forkabi sebagai roda pendorong, itu salah besar.

Apa yang salah hingga Forkabi tidak bisa menjadi penggerak untuk Forkabi sendiri?

Kembali pada permasalahan di atas, bagaimana pola manajemen dimainkan pengurus agar asas mafaat berorganisasi dapat menjadi peluang dalam meningkatkan SDM pengurus dan anggota yang akan bermuara pada perkembangan dan kemajuan organisasi  Di sini kan kita harus bisa berintropeksi diri, apakah sudah bener kita memenej organisasi? Artinya, para Ketua DPC yang ada bisa tidak memberdayakan para Ketua DPRt, dan para Ketua DPRt itu mampu tidak memenej para Ketua Subran agar roda organisasi terus bergulir aktif.

Selanjutnya masalah program, program di sini kalau menurut saya, ada program isidentil ada juga program utama. Kalau kita bicara program utama, kita fokuskan saja pada program komunikasi anak Betawi. Silaturrahimnya yang kita tonjolkan, janga terlalu melebar. Ini juga sebagai sumbangan pemikiran dari saya untuk Forkabi ke depan. Bagaimana agar setiap bidang dalam struktur kepengurusan seperti bidang ekonomi, koperasi, SDM,  dan lain-lain yang selama ini tidak terurus dapat kita jalankan secara optimal agar terasa manfaatnya untuk anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Jadi betul-betul yang ada kaitannya bagaimana kita merekatkan silaturrahim yang merupakan filosofi dari Forum komunikasi.

Sementara bicara program isidentil itu adalah bicara target. Jadi, mantapkan dulu manajemen organisasi tiap jajaran kemudian kita bisa manfaatkan ketika dibutuhkan untuk program-program isidentil tadi. Yang paling pokok adalah, saya melihat hal utama yang perlu kita jalankan adalah memberdayakan dulu sistem manajemen organisasi sehingga kita bisa mengukur kekuatan kita.

Menurut Abang langkah apa yang harus dilakukan Forkabi dalam rangka menuju manajemen organisasi yang baik?

Kita harus bisa menjalankan program semaksimal mungkin. Kita juga harus melaksanakan secara serentak struktur organisasi sesuai AD/ART dan peraturan organisasi itu sendiri. Bicara Mubes, Musda, Muscab, dan Musran itu ditata lagi secara serentak. Kalau sekarang ini masih tidak jelas sistem bottom up atau sistem top down yang kita jalankan. Jadi kalau saya melihat, benahi dulu struktur organisasinya dan dilanjutkan dengan menjalankan program-program yang sifatnya memberdayakan komunikasi dan silaturrahim.

Apa yang harusnya dilakukan oleh pengurus Forkabi agar manajemen organisasi itu bisa berjalan sesuai dengan yang kita harapkan?

Pertama adalah dia harus paham bahwa Forkabi ini organisasi besar yang mempunyai struktur dan hirarki yang jelas. Masing-masing pimpinan organisasi ini harus tahu betul fungsi dan tugas sebagai pelaksana organisasi dijajarannya. Langkah konkret yang paling pokok adalah mempertajam kembali pilosofi atau prinsip organisasi. Jangan berharap Forkabi bisa maju  jika para pengambil kebijakan selaku pelaksana organisasi menjalaninya dengan cara-cara tradisional. Sekarang cara-cara seperti itu sudah tidak bisa dipakai lagi. Forkabi harus memakai sistem manajemen organisasi modern bila ingin maju dan semakin besar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: