Memberi adalah Resep Menggapai Keberhasilan

H. SAGI

Juragan Emas dari Sumatera Barat

Di kawasan Blok M, Melawai, Kebayoran Baru, nama H. Sagi bukanlah nama yang asing. Selain dikenal sebagai pedagang emas yang sukses, suami dari Hj. Karina ini juga dikenal sebagai sosok yang relijius dan memiliki sifat mengayomi. Maka tak aneh jika beliau dipercaya untuk menjadi Ketua Masjid Nurul Iman di Blok M dan juga Ketua Kesatuan Pedagang Aldiron (KEPAL). Sekalipun Aldiron sudah tak ada, kini pedagang anggota KEPAL eks Aldiron sebagian besar sudah berdagang di Blok M Square. Lantas, bagaimana kiat sukses H. Sagi hingga bisa menjadi juragan emas di tanah Betawi ini? Kepada Denjaka dan Diel eFRais dari Batavia News ayah dari 3 putra dan 8 putri serta kakek dari sebelas cucu itu pun bercerita banyak tentang perjalanan hidupnya meraih sukses. Insya Allah, kegigihan dan kejujuran H. Sagi dalam berikhtiar dapat menjadi inspirasi buat kita semua. Silahkan menyimak kisahnya.

Setelah gagal kuliah pada tingkat I di tahun 1970, Sagi lalu belajar berdagang emas dari salah satu familinya di kota Padang. Sagi muda yang lahir di Desa Aur Malintang, Kecamatan Ampek Koto, Padang Pariaman, pada 28 Agustus 1952 memandang ruang lingkup Kota Padang tidak akan dapat menyokong impiannya untuk berhasil. Setelah merasa cukup ilmu berdagang, Sagi muda pun memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Dengan tekad membaja, semangat yang kuat, dan harapan yang besar untuk menjadi insan yang sukses, Sagi muda pun menumpang kapal barang dari Teluk Bayur untuk menuju Tanjung Priok pada tahun 1975. Hati Sagi bergetar hebat memandang aneka rona gemerlap lampu Ibukota. Betapa megahnya Ibukota dibandingkan dengan desa kelahirannya. Makin kuat motivasi Sagi untuk taklukkan Jakarta.

“Mengawali hidup di Jakarta, saya menumpang di rumah salah seorang famili jauh yang orang Sunda. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saya menyewa toko kecil di pasar Majestik dan berjualan emas di pasar itu. Saat itu di pasar Majestik hanya ada 4 toko emas milik pedagang Cina yang bermodal besar dan belum ada pedagang emas asal Pariaman. Mungkin, saya adalah orang Pariaman pertama yang berdagang emas di pasar Majestik itu,” ungkap H. Sagi sambil mengembangkan senyumnya.

Menurut H. Sagi, dengan modal hanya ratusan gram emas dirinya mencoba peruntungannya menjajal kejamnya Ibukota. Prihatin, adalah kiat awal untuk dapat bertahan hidup di kota Jakarta. Makan satu kali dalam sehari di tempat mangkal para tukang becak adalah hal yang biasa dilakoninya. “Saya tak berani makan enak sebab belum ada penglaris dan modal usaha saya sangat kecil. Kalau saya tidak kuat hidup prihatin, pasti modal usaha saya bakal habis untuk makan,” sementara saudara saya bilang pada saya, “gimana kalau kita kembali saja ke kampung, sebab rasanya terlalu berat kehidupan di sini” maka saya bilang,. “jangan begitu, kita harus tetap bertahan untuk maju” terang H, Sagi dengan pandangan menerawang, seakan-akan mengenang masa-masa perjuangannya saat mulai membuka usaha toko emas.

Jika toko emas milik pedagang Cina buka pukul 11.00 dan tutup pukul 15.00 WIB, tambah H. Sagi, toko emas miliknya buka pagi-pagi sekali dan tutup saat rembang petang. Inilah salah satu cara H. Sagi untuk bertahan dan merintis impiannya. “Syukur Alhamdulillah, dengan bangun pagi saya jadi bisa banyak memiliki pelanggan yang datang ke pasar sebelum toko emas yang lain buka. Akhirnya usaha toko emas yang saya jalani secara perlahan namun pasti terus berkembang. Dua tahun kemudian saya sudah memiliki dua toko emas,” ungkap H. Sagi yang teguh dengan prinsip hidup haram judi, haram zinah, dan haram khamar.

Waktu terus berjalan, dan kesuksesan pun kian berada dalam pelukan H. Sagi yang selalu mengedepankan sikap jujur dalam berniaga. Toko emasnya pun bertambah lagi di pasar Tulodong, lalu masuk Blok M di pasar lama dan mendirikan toko emas Roma di tahun 1978. Meski kesibukannya bertambah seiring dengan kemajuan usaha dan banyaknya toko emas yang dimiliki, namun hal itu tidak membuat H. Sagi menjadi  lalai akan eksistensinya dan kewajibannya sebagai makhluk sosial. Di tengah kesibukannya yang padat, beliau tetap membagi waktu dengan cermat antara keluarga, usaha, dan waktu untuk bermasyarakat. “Saya sudah 12 tahun dipercaya untuk memegang amanat sebagai Ketua Masjid Nurul Iman Blok M,” terang H. Sagi yang juga menjabat sebagai Ketua RT dan Ketua Kesatuan Pedagang Aldiron (KEPAL).

Karena pengaruh dan ketokohan H. Sagi pulalah eksistensi Masjid Nurul Iman Blok M selalu terjaga. Terbukti bahwa saat ini dapat disaksikan oleh masyarakat banyak, areal seluas 1650 M2 di Blok M Square dijadikan sebagai lokasi Masjid Nurul Iman. Padahal bila lahan ini dijadikan kios, lalu disewakan tentu akan menambah income bagi pengembang dan PAD bagi pemerintah. Menurut H. Sagi, ada kejadian yang tak bisa dilupakannya berkaitan dengan eksistensi Masjid Nurul Iman. “Dulu, sewaktu ada gerakan massa pada tahun 1998 yang berujung pada penjarahan dan kerusuhan, suara speaker Masjid Nurul Iman Blok M selalu menggema dan mengingatkan umat untuk tidak menjarah. Alhamdulillah, hal ini membuat Blok M aman dari penjarahan. Mereka yang ingin menjarah tiba-tiba minggir dan mundur seakan enggan masuk menjarah di Blok M,” terang H. Sagi.

Suami dari Hj. Karina yang dinikahinya pada tahun 1977 dan kini dikaruniai 3 putra serta 8 putri ditambah sebelas cucu ini, selalu mengutamakan syiar agama dalam menjalani hari-harinya. Tampak jelas bahwa setiap Ba`da Ashar dari Senin sampai Sabtu selalu ada pengajian rutin di Masjid Nurul Iman dan suara gaung da`wah dari speaker masjid tersiar ke seantero Blok M. Sementara sekali dalam sebulan selalu diadakan pengajian akbar. Sangat jarang ada kegiatan dakwah di pasar yang eksis setiap hari selama 12 tahun kecuali di Blok M.

H. Sagi pulalah yang turut membantu mendukung terwujudnya Blok M Square sebagai simbol perkembangan dan pembangunan di Kota Jakarta Selatan. Blok M yang semrawut dan banyak kakilima yang liar dan melanggar perda kemudian meninggalkan sampah dan akhirnya memberi kesan kumuh, kini berangsur membaik dan relatif bersih, aman, nyaman terkendali. Sampah yang berserak di jalanan sudah langsung dipungut saat ini oleh para petugas kebersihan yang dikoordinir oleh kami sebagai warga, Sebab Blok M adalah titik penilaian adipura, di mana H. Sagi sadar betul sebagai warga negara ia wajib untuk mendukung setiap gerak laju pembangunan oleh pemerintah. “Saya sangat bersyukur bahwa Ketua RW 01 Bapak Ichank, Lurah Melawai, Camat Kebayoran Baru, pengelola Blok M Square, warga masyarakat Melawai dan segenap stakeholder di Blok M saling bahu-membahu dalam mewujudkan Blok M yang ‘BERIMAN” dengan semangat Kembalikan Blok M Ku,” ungkap H. Sagi yang sangat komit dalam menjaga suasana dan kondisi yang aman, modern, nyaman, bersih, sejuk, hijau, dan agamis di Blok M.

Saat ini, H. Sagi yang awalnya membangun usaha penuh keprihatinan demi mencapai sukses, sudah memiliki kurang lebih 300 karyawan di segenap toko-toko emasnya yang ada di segenap wilayah DKI Jakarta dan di kota Padang. Kepada karyawannya, H. Sagi selalu wanti-wanti pada karyawannya agar menjaga kualitet dan kepercayaan pelanggan. Sementara di mata karyawannya, H. Sagi dikenal sebagai sosok pemimpin dan panutan yang selalu memberikan teladan yang baik. Di mana sikap kedermawanannya bukan hanya ditujukan kepada para karyawannya, melainkan juga kepada masyarakat kurang mampu yang ada di sekitar Blok M. “Kepada para karyawan, saya selalu berpesan agar jangan pernah barang jelek dikatakan bagus. Jangan kurangi timbangan. Berikan pelayanan sebaik-baiknya agar mereka puas dan selalu percaya pada kredibilitas toko kita,” ujar H. Sagi yang dalam berniaga memiliki prinsip wajib mengambil untung namun sewajarnya.

H. Sagi yang selalu mengingatkan putra-putri dan cucu-cucunya untuk selalu setia berpegang pada prinsip hidup; hemat, rajin, jujur, tepat waktu, tepat janji, dan tidak dusta menyatakan, bahwa hendaknya masyarakat berprasangka baik dan berpikir positif kepada pemerintah dalam setiap gerak laju pembangunannya. Misalnya, dengan memberikan dukungan penuh kepada Pemkot Jakarta Selatan yang ‘dikomandani’ Bang Syahrul agar Pemkot Jakarta Selatan dapat kembali meraih Adipura Kencana. “Kita wajib mendukung Bang Syahrul sebagai Walikota Jakarta Selatan untuk meraih Adipura Kencana kembali dan ini tentunya juga bermakna bahwa kita mendukung Bang Foke sebagai Gubernur dalam menciptakan Jakarta untuk Semua,” imbuhnya.

Sebelum menutup anjangsana hangat menggali sejarah singkat dan petuah dari seorang H. Sagi yang telah nyata mampu membuktikan hasil kerja dan perjuangannya sebagai anakbangsa dapat mejadikan semangat dan motivasi bagi segenap anakbangsa yang lain untuk juga turut membangun imperium kesuksesan dan keberhasilan sosial ekonomi, Juragan Emas dari Sumatera Barat itu menyampaikan pesan kepada segenap kaum muda anakbangsa Indonesia untuk menghindarkan sikap suka menengadahkan tangan. “Jadilah orang yang suka memberi. Karena itulah cara dan resep menggapai keberhasilan,” pungkasnya dengan bijak.

Iklan

2 Responses to Memberi adalah Resep Menggapai Keberhasilan

  1. andres malik says:

    Dari tauladan bapak H.Sagi.semoga lahir H.Sagi-H.Sagi Muda lain supaya bangsa ini terlepas dari kemiskinan,terutama di kampung bapak H.Sagi sendiri di desa Aurmalintang kec IV Koto Aurmalintang…..semoga pak.

  2. toat says:

    saya dlu pernah kerja sama pak sagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: