Pantang dan Tabu untuk Malas dan Gagal

Boy Andrean

Setelah berjuang keras lebih kurang 18 tahun meniti hidup dalam dunia dagang/bisnis di kota Jakarta yang sangat kompetitif, Boy Andrean, lelaki dari Desa Pariaman, Ulakan, Sumatera Barat, boleh berbangga hati. Perjuangan penuh peluh yang dilaluinya kini telah menjadikannya sebagai produsen/grosir/pemasok ikat pingang partai besar/kecil. Mungkin perjuangan seorang Boy Andrean dapat dijadikan contoh positif agar dapat mengentas dari aspek ketertinggalan ekonomi. “Sangat pantang dan tabu untuk malas dan gagal”, demikian ungkap Boy Andrean di awal perbincangan santai dengan Den Jaka dari Batavia News. Berikut bincang-bincang lengkapnya:

Bisa sedikit berbagi cerita singkat perjalanan perjuangan Anda?

Saya ini orang dari desa Pariaman, Ulakan, Sumatra Barat. Datang ke Jakarta dengan modal tekad dan harapan. Saya bangun usaha saya dan liku-likunya dengan darah dan air mata. Namun, keyakinan dan kemauan saya sangat tertanam kuat di sanubari hingga membuat saya mampu untuk hanya tidur beberapa jam saja dalam sehari, makan seadanya sambil tetap menabung rupiah demi rupiah untuk perputaran modal usaha. Itu saya lalui bertahun tahun sambil terus mengembangkan sayap dan relasi. Pada akhirnya saya memiliki beberapa rekanan yang menanamkan investasi dan ada juga yang dalam bentuk pinjaman. Saat mencapai titik ini maka saya sadar bahwa saya sudah layak dipercaya. Akhirnya pepatah “jagalah kepercayaan” seperti pesan orangtua saya dahulu benar-benar saya pahami maknanya  dalam kehidupan saya.

Apa perbedaan Anda yang dahulu dan yang sekarang?

Sudah tentu sangat beda. Dulu saya tak berharta kini saya punya. Dulu saya bukan apa-apa kini saya menjadi pengusaha. Dari tidur di tikar, makan sedapatnya, rumah masih sewa sudah berubah menjadi lebih layak seperti sekarang ini. Mencari uang 30 ribu saat itu sangat sulit sekali. Sekarang saya sudah mampu membayar para pekerja saya puluhan juta tiap minggunya, dan ini yang disebut orang kesuksesan.

Apa yang lebih penting, modal uang atau modal semangat?

Sudah tentu modal tekad dan semangat yang menjadi dasar paling utama. Sebab, dari sini akan muncul etos kerja. Selanjutnya, barulah modal kapital akan datang pada saat Anda sudah “mampu”.

Maksudnya sudah mampu?

Hal kecil yang kita lalui akan menjadi tolok ukur kepercayaan. Pada saat Anda ingin kembangkan usaha yang tentunya butuh modal, maka etos kerja tadilah yang akan membuat  para investor atau pendana percaya kepada Anda. Sebab, pemodal kan harus yakin dulu tentang keamanan pengembalian dana mereka. Nah, harga kepercayaan itu sangat mahal. Membuat orang percaya itu tak mudah, butuh waktu dan proses. Saat akhirnya orang percaya pada kita, maka itu artinya kita sudah masuk fase “layak dan mampu”. Semua ini adalah perkara “jiwa”. Berbisnis itu seni, sedangkan seni itu indah. Maka pengusaha sukses itu adalah orang yang berjiwa bisnis yang bernuansa seni yang memiliki etika dan estetika. Dengan bisnis Anda akan bersilaturahmi dan tambah saudara, sekaligus dengan silaturahmi Anda berbisnis dan tambah laba. Inilah yang saya maksud seni, mengalun berirama.

Alunan dan irama tadi bisa menjadi cashflow bagi kita.

Bicara masalah modal, pemerintah punya program PPMK dan PNPM Mandiri. Komentar Anda?

Itu kebijakan dan keputusan yang luar biasa. Itu dulu tak ada, Bersyukurlah mereka yang akhirnya dapat modal dari pemerintah. Hanya saja mungkin pada proses pelaksanaan di lapangan tentang distribusi agar lebih diperhalus lagi supaya maksud dan tujuan “bergulir” dapat benar-benar “bergulir “.

Adakah pesan yang ingin Anda sampaikan pada segenap pembaca setia Batavia News?

Ya, pertama saya salut dan berapresiasi tinggi pada Batavia News yang mengangkat berita yang lebih bersifat sosial budaya dan semangat daripada sekedar teknis dagang. Sebab, masalah sosial budaya dan semangat bagi saya adalah masalah pemahaman dasar sebelum masuk ke dalam masalah teknis.

Saya juga ingin berbagi kepada segenap anak Indonesia untuk 1) milikilah “jiwa” atau roh pada apapun profesi Anda dan tentukan tujuan Anda, 2) bila punya rencana segera lakukan dan jangan buang waktu dengan menyusun proyeksi management waktu, 3) pandai bersyukur dan jangan tinggalkan silaturahmi, 4) selalu tafakur dan evaluasi, 5) jangan sombong… perbanyaklah meminta dan berdoa pada-NYa, 6) rela, sabar, dan ikhlas, 6) tetap teguh dan istiqomah… Insya Allah Anda akan sampai pada tujuan Anda.

Iklan

One Response to Pantang dan Tabu untuk Malas dan Gagal

  1. Kang Bondan says:

    siiiiiiiiiiiiip 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: