Tangerang Harus Berakhlakul Karimah

Drs. Solihin

Anggota DPRD Kota Tangerang

Drs. Solikhin

Teguh dalam pendirian, tegas dalam bersikap, dan cermat dalam bertutur adalah gambaran singkat sosok anak Betawi yang bernama Drs. Solihin. Maka tak mengherankan jika lelaki tegap kekar yang akrab disapa Bang Leeking tampil sebagai anak muda Betawi yang kharismatik.

Kharisma yang membuatnya sukses dalam memimpin di organisasi sosial politik maupun organisasi sosial kemasyarakatan. Sekarang, Bang Leeking menjabat sebagai Korwil FBR Tangerang Kota dan juga duduk sebagai Anggota Komisi A DPRD Kota Tangerang dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan.

Menurut Bang Leeking, karir politiknya dimulai sejak tahun 1982. Menduduki jabatan Ketua Ranting PPP selama 2 periode, lalu dipercaya untuk memegang jabatan sebagai Ketua PAC, dan kemudian duduk sebagai Wakil Ketua I DPC PPP Tangerang. “Dalam Pemilu 2004 lalu walau mencapai suara yang baik saya harus mengikhlaskan perolehan suara saya kepada kader PPP yang lain berhubung saat itu masih menggunakan sistem nomor urut. Dan di Pemilu 2009 saya baru berhasil memastikan diri mendapat porsi menjadi wakil rakyat karena sistem suara terbanyak. Dan ini adalah kali pertama saya duduk sebagai wakil rakyat,” terang Bang Leeking.

Saat ini, tambah Bang Leeking, kaitannya dengan posisinya sebagai anggota Komisi A DPRD Kota Tangerang ia tengah sibuk menangani pelaksanaan Perda No. 7 dan 8 tentang minuman keras dan pelacuran. Belum lama ini rekomendasi Komisi A DPRD Kota Tangerang baru saja menghasilkan pelaksaan eksekusi penutupan pinangsia oleh walikota yang menyalahi aturan. “Tangerang harus berakhlakul karimah,” ujar Bang Leeking yang juga menggagas berdirinya kepengurusan Ormas Gerakan Pemuda Ka`bah (GPK) sebagai ormas sayap PPP di Kota Tangerang.

Digali lebih jauh tentang kapasitasnya sebagai Korwil FBR Kota Tangerang, Bang Leeking menyatakan, kalau mau dikumpulkan semua warga FBR Kota Tangerang mungkin Lapangan Achmad Yani tak bisa menampung. Meski Gardu FBR hanya ada 2 (dua) di Kota Tangerang, tetapi kedua Gardu FBR itu banyak memiliki pos-pos FBR yang tersebar di Kota Tangerang. “Uniknya warga FBR Kota Tangerang ternyata banyak yang dari kader partai lain semisal Demokrat, PDIP, PAN, atau Golkar. Bahkan jumlah mereka lebih banyak dari warga GPK atau PPP itu sendiri;” terangnya.

Mengenai sedikitnya Gardu FBR di Kota Tangerang, menurut Bang Leeking, dirinya memang agak selektif untuk merekomendir nomor registrasi gardu. Biarlah pos pos dulu yang banyak. Sebelum berpisah dengan Tangsel, masih kata Bang Leeking, dirinya mengkoordinir 9 Gardu FBR, 2 (dua) Gardu FBR di Kota Tangerang dan 7 (tujuh) Gardu FBR di Tangerang Selatan yang saat ini dibawah kepemimpinan Ahmad Bharata. “Yang jelas, insya Allah,  tahun ini saya akan buka 4 Gardu FBR lagi,” ungkapnya.

Bang Leeking menambahkan, dirinya selektif dalam merekomendir nomor registrasi gardu karena banyak mekanisme persyaratan mutlak yang harus dipenuhi untuk menjadi sebuah gardu. “Pertama masalah keanggotaan. Setiap anggota itu diuji dulu loyalitasnya oleh ketua gardu dan dibaiat, ini makan waktu sebulan, setelah itu dibaiat oleh Korwil, dan dalam tenggang waktu satu bulan baru kemudian dibaiat oleh Imam Besar. Setelah itu baru dikeluarkan KTA untuk anggota yang bersangkutan. Butuh proses minimal 4 bulan guna menguji loyalitas dan kesetiaan juga kepatuhan anggota,” terangnya.

Kedua, tambah Bang Leeking, untuk menjadi sebuah Gardu harus ada minimal 250 orang anggota ber KTA yang melalui masa 4 bulan tadi. FBR bukan forum yang mudah mengeluarkan KTA tanpa mekanisme yang jelas. Tak mungkin seseorang diberikan KTA kalau baru kemarin sore mengisi formulir. Ini perbedaan mendasar antara FBR dengan Ormas lain.

“Proses kaderisasi dan rekruitmen keanggotaan yang berjalan melahirkan kader-kader yang sangat patuh dan kompak atau rempug. Bagi FBR, ruhnya ada di REMPUG dan nyawanya ada di IMAMAH. Anggota segini banyak kalau kagak rempug akan kacau. Kompak dan taat pada pimpinan itulah jatidiri FBR. Dan saya selalu instruksikan agar kembali ke khitah FBR yang dulu Omong, Mental, Otot atau OMO yang sudah diganti oleh Alm. KH. Fadholi pada saat ultah FBR di Monas menjadi Sholat, Sekolah, Silat atau tripel S sebagai manifestasi dari bergantinya paradigmanya identitas organisasi yang lebih mengedepankan kemampuan intelektualitasnya,” beber Bang Leeking panjang lebar.

Disinggung mengenai predikat anarkis yang kerap dilekatkan pada FBR, Bang Leeking mengembangkan senyum. Katanya serius, “Saya agak keberatan kalau FBR dikatakan anarkis. Rasanya sepanjang kita beberapa kali demo dengan puluhan ribu orang untuk meneriakan beberapa issu yang populis, tak ada fasos dan fasum yang kita rusak. Tapi tolong jangan diganggu atau di provokasi. Kalau sampai diganggu tentu FBR tak mungkin tinggal diam. Istilahnya kalau lu jual, gua borong ama keranjang-keranjangnya. Itulah FBR,” tegas Bang Leeking yang menambahkan, buat FBR sakit satu sakit semua dan kalau kurang cukup turun semua.

Bicara tentang anarkis, ungkap Bang Leeking, harus tahu dulu siapa yang mencap anarkis. Pasti mereka yang ‘bakul nasinya tebalik’ atau ‘kepentingannya’ selama sekian tahun terganggu. Sementara hal lain tidak disebut, misalnya berapa ribu anak yatim yang kita santuni, berapa yang kita sekolahkan sampai sarjana, sunatan massal, pengajian, dan banyak kegiatan sosial lain. “FBR ingin mengangkat harkat martabat kaum Betawi. Dan ini berpangkal pada perkara ekonomi,” imbuhnya.

Mengutip istilah bangsa yang besar adalah yang menghargai sejarahnya, tambah Bang Leeking, sejarah Betawi diisi oleh Pitung, Ji`ih, Jampang, Ayub Teluk Naga, Husni Thamrin, dan sekian tokoh lain di wilayah masing-masing yang mungkin tiada tercatat oleh sejarah. “Saya dan sekian puluh ribu anak Betawi kan gak pernah minta lahir jadi orang Betawi. Saat saya lahir jadi orang Betawi yang memiliki kampung, maka Betawi adalah stakeholder yang harus punya peranan yang mana selama ini kok tertinggal dan terpinggirkan. Semangat perubahan untuk kemajuan adalah mulia dan harus didukung, dan melalui FBR ini coba kita wujudkan,” tekad Bang Leeking.

Sebaiknya, kata Bang Leeking, kalau mau memberikan cap atau citra kepada FBR lakukan dulu survei akademis yang objektif secara sosial kemasyarakatan tentang peran serta FBR dalam hal variable kamtibmas dan stabilitas. Harus diakui, tanpa ada FBR mana mungkin orang Betawi dihitung atau dihargai. Citra yang muncul selama hampir beberapa dekade tentang image orang Betawi adalah bahwa orang Betawi itu warga kelas 3 atau 4 yang jadi kacung di kampungnya sendiri. “Dimulai dengan motto tripel S ala FBR, insya Allah, beberapa tahun kedepan barulah secara signifikan peranan orang Betawi di percaturan kehidupan sosial kemasyarakatan dan politik bisa dihargai. Bila saat ini masih dianggap miring maka biarlah dulu sambil kita tetap berusaha membuat perbaikan dan kelak waktu yang akan membuktikan. FBR selaku Ormas Betawi harus kuat dan solid karena sebagai orang Betawi kita gak bisa  lari kemana-mana,” ujarnya penuh tekanan.

Dalam kesempatan ini, Bang Leeking juga menyampaikan pesan kepada warga FBR Kota Tangerang pada khususnya dan warga FBR se-Jabodetabek pada umumnya, agar aktif di Ormas FBR harus ikhlas. Dalam menghadapi permasalahan, jangan grasa-grusu, musyawarah dan mawas diri harus dikedepankan. “Mari ciptakan citra baik bagi FBR. Kedepankan khitah kita yaitu sholat, sekolah, silat dan rapatkan barisan untuk saling ingat-mengingatkan dan sayang menyayangi tanpa meninggalkan sikap tegas pantang mundur dan berani untuk membela martabat dan harga diri kaum Betawi. Utamanya dalam melaksanakan dan mentaati komando Imam Besar. Jadikan jiwa Ji`ih, jiwa Pitung, jiwa Husni Thamrin, dan sekian legenda Betawi yang lain sebagai penyemangat dalam berjuang demi kemajuan kaum Betawi,” pungkas Bang Leeking.

Denjaka

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: