Seni Budaya Betawi Kurang Mendapat Tempat

Menurut Pimpinan Sanggar CIPTRA Betawi Satiri Minin, SH seni budaya Betawi kurang mendapat tempat dalam kehidupan Kota Jakarta yang kian gemerlap dengan pola hidup masyarakatnya yang makin individual dalam balutan hedonisme yang makin meracuni peradaban. Meski Jakarta merupakan tanah leluhur kaum Betawi, tetapi nasib seni budaya Betawi kian mengenaskan. Maka tak aneh jika ada yang berpendapat bahwa seni budaya Betawi itu hidup enggan mati tak mau di tanah kelahirannya sendiri.

Realitas itu, menurut Satiri, dibuktikan dengan kehidupan para seniman tua Betawi yang hidupnya ‘senin – kemis’ karena tekanan ekonomi yang tak mengenal kata belas kasih. Sementara para seniman muda Betawi harus terus ‘jumpalitan’ dalam melestarikan seni budaya warisan leluhurnya tanpa tahu kapan ada pencerahan sehingga seni budaya Betawi bisa berjaya di kampung halamannya sendiri.

“Meski sudah jumpalitan dan berupaya keras untuk melestarikan dan mengembangkan seni budaya Betawi, mereka para seniman muda Betawi itu tak pernah tahu kapan perjuangan yang penuh jerih payah itu membuahkan hasil. Sehingga seni budaya Betawi bisa menjadi tuan rumah di kampung halamannya sendiri. Di mana kemajuan seni budaya Betawi itu erat pula kaitannya dengan kemajuan secara ekonomis bagi para pelakunya,” terang Satiri.

Bila melihat realitas saat ini, tambah Satiri, dirinya agak pesimis bila seni budaya Betawi akan mampu menjadi tuan rumah di kampung halamannya sendiri. Alasannya, masih kata Satiri,

belum kelihatan upaya serius dari para pejabat Betawi baik yang duduk di eksekutif maupun legislatif dalam memajukan seni budaya Betawi. “Saya melihat banyak pejabat kita yang belum fokus dalam mengembangkan seni budaya Betawi. Kegiatan yang ada baru sebatas melestarikan budaya Betawi lewat berbagai festival, membangun cagar budaya atau Perkampungan Budaya Betawi tanpa ada evaluasi konkret untuk meningkatkan mutu kegiatan dalam rangka mengembangkan seni budaya Betawi,” ungkap Satiri Minin.

Karena sebatas upaya pelestarian, tambah Satiri, banyak event seni budaya Betawi yang diisi oleh seniman yang bukan seniman Betawi meski yang dipertunjukkan adalah seni dan budaya Betawi. “Bila hal ini dibiarkan berlarut-larut, saya khawatir untuk ke depannya kehidupan seniman Betawi akan makin terpuruk,” ujarnya.

Awalnya, tambah Satiri, para seniman Betawi berharap banyak pada Ormas Betawi yang jumlahnya ratusan yang kini bernaung di BAMUS Betawi. Para seniman Betawi berharap Ormas Betawi yang ada itu memberikan ruang untuk seni budaya Betawi agar dapat eksis dan berkembang di kampung halamannya sendiri. Hanya sayangnya, masih kata Satiri, Ormas Betawi yang ada itu pun tak mampu berbuat banyak dalam menjaga, mengembangkan, dan memajukan seni budaya Betawi karena mereka lebih terfokus pada aktivitas politik praktis.

“Menjelang Pilkada DKI Jakarta 2007 lalu, banyak Ormas Betawi yang berjuang agar tanah Betawi bisa dipimpin oleh putra terbaik Betawi. Sebuah keinginan yang wajar berkaitan dengan semangat otonomi daerah. Mereka berkeyakinan bila Jakarta yang merupakan tanah Betawi dipimpin oleh orang Betawi, maka kehidupan orang Betawi dapat terangkat dalam segala dimensi kehidupan. Baik secara sosial, ekonomi, pendidikan, maupun seni dan budaya,” terang Satiri Minin, SH panjang lebar.

Menurut Satiri, setelah kini Jakarta dipimpin putra terbaik Betawi, perjuangan Ormas Betawi untuk mengangkat harkat martabat Betawi, yang didalamnya berarti juga mengangkat seni budaya Betawi, kurang kedengaran lagi. “Dulu banyak ormas Betawi yang dalam perjuangan memenangkan putra terbaik Betawi untuk jadi gubernur bertekad agar di Jakarta ini ada Museum Benyamin Sueb. Mereka juga menginginkan ada Gedung Kesenian Betawi. Tentu apa yang mereka sampaikan itu mendapat dukungan penuh dari seniman Betawi maupun masyarakat yang mencintai seni budaya Betawi,” ungkap Satiri.

Sekarang, tambah Satiri, impian itu masih belum menampakkan bayangan akan menjadi nyata. Impian itu masih berupa impian dari tokoh budayawan dan seniman Betawi. “Kita berharap, apa yang menjadi harapan para budayawan dan seniman Betawi tersebut bisa terealisasi di saat Jakarta ini masih dipimpin anak Betawi. Jangan sampai momentum yang kita miliki untuk memajukan seni budaya Betawi hilang tanpa makna. Sayang, kan?” pungkas Satiri penuh tekanan.

Jamiel Loellail Rora

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: