Bangga Tanah Betawi Jadi Ibukota Negara

H Tetem dan isteri

Berbagi demi meningkatkan kemaslahatan sesama adalah filosofi hidup yang dilakoni salah seorang tokoh Betawi Jakarta Timur H. Tetem Sumardi. Berbagi apa saja sebatas kemampuan yang kita miliki sebagai anugerah Sang Khalik agar kita dapat menjadi manusia yang memiliki banyak manfaat untuk manusia yang lainnya. Entah itu berbagi ilmu, berbagi harta atau bersedekah, maupun berbagi tenaga. Demikian ungkap H. Tetem Sumardi kepada Emha Syamsuddin dan Jamiel Loellail Rora dari Batavia News di kediamannya yang asri di kawasan Jl. Jembatan I, Balekambang, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Bagi H. Tetem Sumardi yang dikenal sebagai figur yang low profile, mengabdikan diri bagi kemaslahatan masyarakat merupakan implementasi dari kenginannya untuk menjadi insan yang bermanfaat untuk sesama. Itu adalah pilihan hidupnya. Maka tak aneh jika pilihan hidupnya itu menjadikannya figur yang dijuluki sebagai ‘penyambung lidah rakyat’.

Salah satu contoh kasus upaya H. Tetem sehingga dirinya mendapat predikat sebagai ‘penyambung lidah rakyat’ adalah ketika menyuarakan keluhan masyarakat ke orang nomor satu DKI Jakarta DR. Ing. H. Fauzi Bowo atas terputusnya jembatan gantung kali Ciliwung yang merupakan pembatas wilayah kota Jakarta Timur dengan Jakarta Selatan akibat banjir besar pada tahun 2007 lalu. Hasilnya, akses jalan yang sempat terputus selama 4 bulan itu mendapat respon positif dari Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. “Bahkan,  Bang Fauzi sendiri yang melakukan upacara peletakan batu pertama dan menjadi agenda seratus hari kerjanya kala itu,” terang lelaki gagah kelahiran Jakarta, 4 April 1958 yang selalu tampil resik dan dikenal sebagai pribadi yang rendah hati.

Sebagai anak Betawi, tambah mantan Tim Sukses Fauzi Bowo – Prijanto saat Pilkada DKI Jakarta 2007 lalu, dirinya amat memahami karakteristik orang Betawi yang amat demokratis dan toleran terhadap siapa saja.

Jadi, bukanlah sesuatu yang berlebihan atau bisa dianggap istimewa bila kita selaku orang Betawi siap membantu siapa saja apabila dibutuhkan. Apalagi bila bantuan itu berimplikasi kepada kemaslahatan masyarakat banyak. “Saya memang aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan berkaitan dengan filosofi hidup saya yang ingin menjadi insan yang memiliki banyak manfaat bagi sesama. Jadi, sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa dalam aktivitas keseharian atau usaha saya,” ungkap suami dari Hj. Hamidah yang senang membina jalinan silaturahim itu merendah.

Disinggung mengenai upaya dari peningkatan harkat martabat kaum Betawi yang diusung seratus lebih Ormas Betawi yang berpayung di BAMUS Betawi, H. Tetem berpendapat, semenjak Putra Terbaik Betawi Fauzi Bowo menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sebagian dari upaya itu sudah terealisasi. “Di bawah kepemimpinan Bang Fauzi eksistensi kaum Betawi semakin kelihatan di kampung halamannya. Hal itu terbukti dengan peningkatan acara kebetawian yang bermunculan, termasuk adanya Lebaran Betawi yang diprakarsai oleh tokoh-tokoh Betawi seperti Bang H. Nachrowi Ramli selaku Ketua Umum BAMUS Betawi maupun tokoh-tokoh Betawi lainnya dari seluruh Ormas Betawi yang ada,” paparnya.

Sementara kaitannya dengan pelestarian dan pengembangan seni budaya Betawi, tambah H. Tetem, perlu upaya lebih konkret dari Pemda maupun para pelaku seni budaya itu sendiri dalam rangka menjaga eksistensi dan mengembangkan seni budaya Betawi. “Sanggar-sanggar yang sudah terkenal seperti sanggarnya Mpo Nori atau Bang Malih maupun sanggar-sanggar lainnya patut terus dipertahankan dan dikembangkan. Sementara sanggar-sanggar baru yang lahir karena keinginan untuk mengangkat kebudayaan Betawi yang belum mendapat bantuan dari Pemda, harus lebih proaktif dalam mengembangkan eksistensi kegiatan sanggarnya,” imbuh H. Tetem

Insya Allah, tambahnya, dengan lebih proaktif para pengurus sanggar dalam mengembangkan eksistensi kegiatan sanggarnya maka upayanya dalam membantu melestarikan dan mengembangkan seni budaya Betawi mendapat perhatian dari Pemda. Salah satu caranya, masih kata H. Tetem, jangan segan-segan untuk menampilkan diri di setiap ada event-event yang ada sebagai ajang untuk membuktikan keahlian di bidang kesenian Betawi. “Dan yang tak kalah penting, para pengurus sanggar harus sering berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dengan harapan bisa diberi kesempatan untuk tampil di acara festival seni budaya maupun event-event besar lainnya disamping bantuan dana pelestarian dan pengembangan seni budaya yang ada,” imbuhnya.

Mengenai tanah Betawi yang menjadi ibukota negara, H. Tetem yang sudah matang dan kenyang makan asam garam kehidupan berorganisasi baik organisasi sosial kemasyarakatan maupun organisasi sosial politik, dirinya amat bangga tanah Betawi sebagai tanah kelahirannya dijadikan ibukota negara. Karenanya kaum Betawi harus satu suara dalam memperjuangkan harkat dan martabat kaumnya. “Kita harus dapat mengambil pelajaran dari Pemilu Legislatif 2009 lalu. Di mana banyak politisi Betawi yang muncul jadi calon anggota legislatif, tetapi yang jadi dapat dihitung dengan jari. Itu karena kaum Betawi belum sepenuhnya satu suara. Padahal potensi orang Betawi atau suara orang Betawi itu banyak,” katanya.

Contoh lain dari belum sepenuhnya kaum Betawi satu suara, tambah H. Tetem, adalah dengan banyaknya Ormas Betawi yang jumlahnya seratus lebih yang berpayung di BAMUS Betawi. Belum lagi Ormas Betawi yang belum masuk atau belum berpayung di BAMUS Betawi. Di mana sebagian dari ormas tersebut kurang melakukan pembinaan kepada para pengurus dan anggotanya untuk menjadi insan yang berprestasi. Di mana dengan prestasi tersebut mereka sebagai generasi muda Betawi mampu memberikan kontribusi positif bagi kemajuan Jakarta pada khususnya dan kemajuan bangsa pada umumnya.

“Yang kedengaran selama ini kan kebanyakan hanya ributnya saja. Jadi, seakan-akan mereka ini bukan membina ormas tetapi membina suatu geng. Tentu saja realitas ini membuat kita miris. Kok Betawi seperti itu? Kenyataan ini kan amat merusak citra anak Betawi di mata masyarakat lainnya. Saya berharap realitas minor seperti itu harus segera dibenahi dengan mulai melakukan pembenahan pada manajemen roda organisasi. Atau memilih pemimpin yang memiliki kualitas dan mempunyai tanggung jawab sebagai pemimpin di ormas tersebut. Baik mulai dari tingkat paling bawah hingga tingkat paling tinggi dalam struktur kepengurusan Ormas Betawi tersebut,” imbuhnya.

Karena itu, menurut H. Tetem yang bangga karena tanah Betawi dijadikan sebagai ibukota negara, dirinya sangat mengharapkan Ormas-Ormas Betawi yang ada di tanah Betawi, khususnya Ormas Betawi yang sudah besar seperti Forkabi dan FBR yang memang sudah mempunyai potensi, dapat menjadi tauladan bagi Ormas Betawi yang lain agar dapat lebih kompak dan lebih disiplin dengan apa yang ada di AD/RT masing-masing Ormas Betawi yang bersangkutan. “Dan para pemimpin dari Ormas Betawi yang ada harus lebih mengayomi kepada anggota-anggotanya. Sementara anggotanya itu sendiri pun jangan terlalu over acting setelah aktif di Ormas Betawi itu,” katanya.

Dalam kesempatan ini, tokoh Betawi yang tak pernah ragu dalam berjuang memajukam kaum Betawi sebatas kemampuan yang dianegurahkan Sang Khalik kepadanya, mengharapkan agar kaum Betawi khususnya dan warga Jakarta pada umumnya mensyukuri karena tanah Betawi terpilih sebagai ibukota negara dengan cara mentaati hukum yang berlaku dalam menjaga ketertiban kota Jakarta yang menjadi barometer Indonesia di mata warga asing.

“Kita sebagai warga negara harus mempunyai sikap tanggung jawab untuk mentaati hukum yang berlaku di negara ini. Dan khusus kepada saudara-saudara saya yang aktif di Ormas Betawi, tentunya harus lebih memahami dan memiliki sikap tanggung jawab yang besar selaku warga inti kota Jakarta dalam menjaga rambu-rambu hukum itu agar tetap dijadikan acuan dalam setiap tindakan baik secara pribadi maupun secara bersama-sama,” ungkapnya.

Sementara untuk Ormas Betawi yang ada, tambah H. Tetem, harus bersatu padu menjaga ketertiban dan keamanan tanah Betawi dari tindakan-tindakan yang kurang bertanggung jawab. Termasuk mengamankan ibukota negara dari demo-demo yang kira-kira sifatnya anarkis dan mengganggu ketentraman warga ibukota lainnya. “Di samping itu juga saya berpesan kepada kaum muda, khususnya kaum muda Betawi, teruslah menuntut ilmu dan jangan gampang menyerah dalam menghadapi persoalan hidup. Jadilah generasi muda yang kritis membangun dan bukan kritis yang saling menjatuhkan agar dapat menjadi generasi yang dibanggakan. Bukan saatnya lagi berpangku tangan. Zaman sudah serba canggih dan melahirkan persaingan hidup yang makin kompetitif. Kita harus mengikuti perkembangannya zaman agar tidak tergilas dan menjadi pecundang dalam persaingan hidup yang kian kompetitif itu,” pungkasnya bijak.

Iklan

One Response to Bangga Tanah Betawi Jadi Ibukota Negara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: