Mantan Pekerja Cleaning Service Jadi Direktur Utama

Jujur dan rajin adalah filosofi hidup yang tertanam kokoh di relung hati

HM. Husni Thamrin dan isteri

H.M. Husni Thamrin dalan menapaki roda kehidupan. Filosofi yang mengantarkannya pada kesuksesan. Betapa tidak, berawal dari seorang pekerja cleaning service, kini anak Betawi kelahiran kampoeng Kemang 55 tahun silam yang karib disapa Bang Haji Thamrin bisa menikmati hidup layak sebagai seorang Direktur Utama pada PT. Sinar Polyguna Tetap Lestari yang didirikannya pada tahun 1995 lalu. Selain jujur dan rajin, apalagi kiat sukses ayah dari lima anak itu? “Berpikir positif, pantang menyerah, dan mau terus-menerus belajar untuk meningkatkan wawasan. Kalau orang lain bisa sukses, mengapa saya tidak? Kalau saya tidak bisa, berarti ada yang salah pada saya sehingga saya tidak bisa melakukan yang orang lain bisa lakukan,” ungkap H.M. Husni Thamrin penuh semangat pada Emha Syamsuddin dan Jamiel Loellail Rora dari Batavia News.  

Ada orang bijak yang mengatakan, kalau melihat seseorang sukses, jangan iri pada kesuksesannya. Tapi, lihatlah perjuangan orang itu dalam menggapai sukses. Ungkapan bijak tersebut tepat kita gunakan dalam melihat sosok pengusaha sukses dari tanah Betawi H.M. Husni Thamrin. Sehingga kita dapat mengambil hikmah dan menjadikan inspirasi perjuangannya dalam menggapai sukses untuk diri kita sendiri. Bagaimana tidak, anak Betawi yang karib disapa H. Thamrin itu memulai karirnya sebagai cleaning service sebelum menduduki jabatan bergengsi saat ini; Direktur Utama PT. Sinar Polyguna Tetap Lestari.

Keprihatinan dalam melakoni hidup merupakan bagian tak terpisahkan dari H. Thamrin muda. Beragam pekerjaan informal dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. “Saya pernah menjadi pedagang asongan untuk mencari nafkah buat diri sendiri. Pekerjaan apapun saya lakukan asal halal. Buat saya tidak ada kata malu dalam berikhtiar atau berusaha mendapatkan rezeki yang Allah tebarkan di muka bumi ini. Saya malah malu kalau menganggur karena itu sama saja menjadikan diri saya beban untuk orang lain,” terang H. Thamrin yang dilahirkan di Kampoeng Kemang pada tahun 1955.

Pekerjaan serabutan, tambah H. Thamrin, baru berhenti ketika dirinya mendapat kesempatan untuk bekerja sebagai cleaning service pada salah satu hotel bintang lima yang ada di Jakarta. “Berangkat dari keprihatinan hidup, saya menjalani pekerjaan saya sebagai cleaner di Hotel Hilton dengan penuh kesungguhan. Kesungguhan yang membuahkan hasil prestasi gemilang dan mendapat kepercayaan dari atasan tempat di mana saya bekerja,” terang ayah dari lima anak itu.

Bermula dari seorang cleaner atau tukang pel ruangan-ruangan karyawan, kenang H. Thamrin, akan tetapi berkat kejujuran, ketekunan, dan keuletan yang dilakukan dalam menjalani setiap tugas dan kewajiban yang dipercayakan kepadanya, membuatnya mendapat perhatian khusus dari atasannya. Apalagi H, Thamrin muda juga memiliki kelebihan lain dibanding beberapa teman sekerjanya. “Saya memang ada sedikit keunggulan dalam berbahasa inggris, karena pada umumnya di Hotel Hilton bahasa inggris yang di utamakan. Nah, sedikit kelebihan itu ternyata memberikan peluang bagi saya dalam meniti karir. Berawal dari cleaning service, house keeping, sampai dipercaya menjadi asisten eksekutif house keeper” ungkap H. Thamrin merendah.

Bersama Keluarga Tercinta

Kurang lebih sekitar 17 tahun H. Thamrin bekerja di Hotel Hilton. Jabatan asisten eksekutif house keeper ditinggalkannya karena ia ingin mandiri. Api semangat untuk terus maju memacu dirinya. Gelora semangat untuk bisa meraih yang terbaik dalam hidupnya mendorongnya untuk memilih pensiun dini. Pada tahun 1995, umur saya ketika itu sekitar umur 40 tahun, dan saya masuk di Hotel Hilton pada tahun 1976. Pada saat itu pilihan bagi siapa yang akan pensiun dini akan diberikan dana tambahan atau uang pisah dan akhirnya saya ambil alternatif untuk pensiun dini,” ungkap H. Thamrin sambil menerawang. Seakan tengah merangkai kejadian masa lalu dari sepenggal episode perjalanan dirinya.

Setahun setelah pensiun, tambah H. Thamrin, dirinya sempat menganggur sekitar satu tahun. Waktu luang yang ada itu digunakan untuk merenung. Ternyata, masih kata H. Thamrin, kelamaan menganggur juga tidak enak. Akhirnya dia pun putar otak untuk mencari solusi bagaimana supaya bisa berlanjut hidup ini. Di masa-masa perenungan itulah terbesit keinginan untuk mendirikan suatu jasa cleaning service.

“Di samping saya mempunyai pengalaman yang cukup di bidang itu, saya juga banyak melihat teman-teman saya yang sukses dalam membuka usaha di bidang itu. Kalau orang lain bisa mengapa saya tidak bisa? Kalau saya tidak bisa, berarti ada yang salah pada saya sehingga saya tidak bisa melakukan apa yang orang lain bisa lakukan. Itulah landasan awal yang akhirnya dengan tekad yang kuat saya mendirikan perusahaan yang bernama PT. Sinar Polyguna Tetap Lestari,” ungkap H. Thamrin.

Menurut H. Thamrin, ada yang menarik dan cukup mengherankan di awal perkembangan PT. Sinar Polyguna Tetap Lestari yang didirikannya. Meski Perusahaan yang didirikannya belum resmi kala itu atau belum mendapatkan izin dari Departemen Kehakiman, tapi sudah ada pihak lain yang memintanya untuk mengerjakan proyek. “Rupanya, banyak teman sejawat yang mengetahui saya telah pensiun dan membuka perusahaan secara tidak langsung membantu saya mendapatkan proyek kerjasama,” ujar H. Thamrin yang di antara senyumnya sempat mengemukakan bahwa PT. Sinar Polyguna Tetap Lestari yang sejak didirikan hingga saat ini sempat bolak-balik berganti logo atau simbol.

Dimulai pada tahun 1997 di gedung Multika Building, depan RS Hermina, proyek kerjasama yang diterima PT. Sinar Polyguna Tetap Lestari untuk pertama kali itu hanya menyerap tenaga kerja atau bermodalkan tenaga kerja 7 orang saja. “Saat itu saya belum mempunyai kendaraan, belum punya kantor, belum punya telepon karena  PT. Sinar Polyguna Tetap Lestari ini memang belum resmi berdiri. Meski belum resmi, tetapi nama PT. Sinar Polyguna Tetap Lestari ini sudah beredar kemana-mana,” ungkap H. Thamrin yang kala itu berusaha menempatkan posisinya sebagai pemilik perusahaan, sebagai pegawai, dan sebagai pelaksana.

Di samping itu, tambahnya, dirinya juga ikut berbaur dengan yang lainnya karena tidak ingin menganggap dirinya sebagai pimpinan perusahaan atau bos. H. Thamrin sadar benar bahwa perusahaan yang didirikannya itu baru berjalan dan masih belajar. Kejujuran dan kerajinan yang dipegangnya sebagai falsafah hidup, lagi-lagi memberikan buah yang manis bagi H. Thamrin. Karena pada akhirnya, orang yang mempunyai gedung itu melihat kualitas cara kerja dari PT. Sinar Polyguna Tetap Lestari cukup bagus, dan dari situlah menyebar dari mulut ke mulut sehingga sampai ke Royal Sentul.

Menurut H. Thamrin, visinya ke depan dalam memajukan dan mengembangkan perusahaan terinspirasi oleh motivasi yang didapatinya ketika mendapat kepercayaan dari pihak Multika Building. Di situ H. Thamrin menyakini bahwa perusahaan yang didirikannya memiliki prospek yang sangat besar dan menjanjikan untuk menggapai sukses. “Pada saat itu saya tidak berpikir untung dulu, karena memang saya ingin tunjukkan ada trade mark-nya dulu dari perusahaan yang saya dirikan ini. Saya ingin PT. Sinar Polyguna Tetap Lestari ini harus punya nilai jual dulu,” katanya.

Di Royal Sentul, tambah Direktur Utama PT. Sinar Polyguna Tetap Lestari ini, selain mengerjakan jasa cleaning service, pihak Royal Sentul juga mempercayakan PT. Sinar Polyguna Tetap Lestari untuk mengerjakan membuat spanduk, banner, dan umbul-umbul. “Tanpa pikir panjang lagi saya langsung kerjakan proyek itu. Dan itu memang sifat saya dari dulu. Tidak ada kata-kata yang mengatakan tidak bisa, karena itu tidak ada dalam kamus hidup saya. Dari tugas atau pekerjaan yang dipercayakan kepada saya itu saya belajar harus kemana atau dimulai dari mana untuk mengerjakan proyek itu,” terang H. Thamrin.

Dari lakon hidup yang dijalaninya itu, anak Betawi yang memiliki kesamaan nama dengan Pahlawan Nasional dari Tanah Betawi Muhammad Husni Thamrin akhirnya merasa dan menyadari ada potensi di dalam dirinya yang mungkin orang lain tidak memilikinya. Berpikir positif, pantang menyerah, dan mau terus-menerus belajar untuk meningkatkan wawasan menjadikannya sosok yang siap bekerja secara single fighter untuk merealisasikan apa yang telah menjadi impiannya. “Berjalan dari jasa cleaning service di Sentul, kini PT. Sinar Polyguna Tetap Lestari mulai berkembang di Jakarta. Kalau pada awalnya saya bekerja secara single fighter, kini saya mulai merekrut karyawan. Alhamdulillah, perusaahan yang awalnya saya kerjakan secara single fighter itu kini terus berkembang dan mampu menampung tenaga kerja lebih dari 1000 orang,” ujarnya.

Menurut ayah dari lima orang anak ini, kunci dari keberhasilannya mengembangkan PT. Sinar Polyguna Tetap Lestari adalah upaya continue dalam meningkatkan kualitas dan SDM para karyawannya. PT. Sinar Polyguna Tetap Lestari, masih kata H. Thamrin, memang menjual kualitas dan bukan hanya sekedar menjual ‘cuap-cuap’. Hingga saat ini PT. Sinar Polyguna Tetap Lestari semakin melebarkan sayap dan semakin berkembang. Itu terbukti dengan ekspansi yang telah dilakukan PT. Sinar Polyguna Tetap Lestari dengan membuka cabang di Kota Manado di samping telah mengembangkan usaha dalam bidang pengamanan atau security service. “Karyawan PT. Sinar Polyguna Tetap Lestari di Jakarta mencapai hampir 600 karyawan dan karyawan PT. Sinar Polyguna Tetap Lestari di Manado juga hampir mencapai 600 orang,” terang H. Thamrin tanpa mampu menyembunyikan rasa bahagianya karena telah mampu dan bisa membantu orang banyak dengan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

H. Thamrin menambahkan, perjalanan hidup penuh perjuangan berbalut keprihatinan yang dilaluinya dalam menggapai sukses, insya Allah dapat menjadi motivasi untuk kita semua bagaimana kita bisa sukses. Upaya untuk terus melakukan introspeksi diri dalam rangka merubah pola pikir kita ke depan serta menumbuhkan rasa percaya diri yang kuat pada kemampuan diri kita sendiri amatlah penting. Kalau kita mau sukses, jaga, rawat, dan kembangkan sifat rajin dan jujur kita dalam menjalani hidup. “Insya Allah, sifat rajin dan jujur kita akan menjadikan rezeki yang kita terima menjadi berkah,” imbuhnya.

Di samping itu, tambah suami dari Neneng Srimulyati, untuk menggapai sukses kita juga harus mau bercermin kepada orang-orang pendatang dari luar daerah yang mencari nafkah di Jakarta. Kalau para pendatang bisa sukses di tanah Betawi ini mengapa kita yang orang Betawi tidak? Menurut H. Thamrin, masalahnya kemauan orang-orang Betawi untuk maju masih minim dan pola pikirnya masih mengandalkan pemberian dari orang tua. Sikap lemah dalam menghadapi persaingan hidup yang makin kompetetif di Jakarta ini dan sikap mengandalkan orang tua harus kita tanggalkan mulai sekarang. Itu kalau kita mau sukses.

“Jangan mentang-mentang tanah kita luas, kontrakan kita banyak, kita seenaknya berpangku tangan sambil uncang-uncang kaki. Dan apabila kita dipertemukan dengan suatu masalah atau kebutuhan yang mendadak, bukannya berpikir untuk mengatasi masalah itu dengan SDM yang kita punya, melainkan  sedikit demi sedikit dijual itu pemberian dari orang tua. Kalau pola pikir kita masih seperti itu, maka secara otomatis lama-kelamaan orang-orang Betawi akan semakin terpinggirkan,” pungkas H.M. Husni Thamrin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: