Menjaga Seni Budaya Betawi Tanggungjawab Kita Bersama

H. Muhayar

Salah seorang Tokoh Betawi Kebon Jeruk H. Muhayar HM menggelar Parade Seni Budaya Betawi dalam acara resepsi pernikahan (walimatul arsy) untuk putri ketiganya beberapa waktu lalu. Mulai dari acara palang pintu, penampilan seni bela diri silat Betawi dari enam perguruan, sampai acara hiburan lenong yang merupakan seni pertunjukkan dari tanah Betawi. Parade Seni Budaya Betawi itu digelar untuk memberikan bukti pada etnis lain bahwasanya banyak jawara-jawara dari tanah Betawi yang ada di Jakarta ini. “Insya Allah, hal ini bisa menjadi filter bagi masyarakat etnis lain yang ingin ‘unjuk gigi’ dengan gaya-gaya premanisme dan kerap menganggap penduduk inti Jakarta ini sudah tidak ada lagi. Kita bukannya takut menghadapi orang-orang yang melakukan hal-hal premanisme di kampung kita, hanya saja kebanyakan dari kita tidak mau ambil pusing. Tapi kalau memang kampung kita ini sudah diinjek-injek, sudah tidak dihargai, dia jual tentu kita beli,” tegas H. Muhayar HM yang juga Ketua DPC Forkabi Kebon Jeruk.

Pagelaran Seni Budaya Betawi yang diusung Ketua DPC Forkabi Kebon Jeruk H. Muhayar HM dalam perayaan walimatul arsy untuk putri keduanya patut diberi acungan jempol. Bagaimana tidak, sementara banyak tokoh Betawi dan Ormas Betawi yang dalam acara atau hajat yang mereka gelar lebih condong menampilkan musik dangdut, H. Muhayar HM tidak terbawa dengan arus itu. “Apa yang saya lakukan ini dalam rangka turut membina dan mengembangkan seni budaya Betawi agar tetap lestari dan tetap mendapat tempat di hati generasi muda Betawi selaku pemegang estafet kepemimpinan di tanah Betawi ini,” ungkap H. Muhayar.

Salah seorang tokoh Betawi Kebon Jeruk ini menambahkan, dirinya sangat menyayangkan melihat kondisi seni budaya Betawi yang hampir 80% mulai hilang. Realitas itulah yang mendorong atau memotivasi dirinya untuk membangkitkan kembali seni budaya Betawi yang sepertinya mulai dilupakan. “Tujuannya tentu saja agar saudara-saudara kita yang orang Betawi maupun etnis lain yang ada di Jakarta ini bisa melihat budaya kita dan menjadi tahu,” katanya.

Di samping itu, tambah H. Muhayar, dirinya sebagai orang Betawi ingin memberikan bukti pada etnis lain bahwa banyak jawara-jawara dari Betawi yang ada di Jakarta ini. Kenyataan ini, masih kata H. Muhayar, insya Allah dapat menjadi filter bagi masyarakat etnis lain yang ingin ‘unjuk gigi’ dengan gaya-gaya premanisme dan kerap menganggap penduduk inti Jakarta ini sudah lagi tidak ada.

“Kita bukannya takut menghadapi orang-orang yang melakukan hal-hal premanisme di kampung kita. Hanya saja, kebanyakan dari kita tidak mau ambil pusing. Tapi kalau memang kampung kita ini sudah diinjek-injek, sudah tidak dihargai, dia jual tentu kita beli,” ujar H. Muhayar penuh ketegasan.

Sebagai tokoh Betawi yang merasa mempunyai tanggungjawab untuk melestarikan budaya Betawi, H. Muhayar juga mengatakan pada Batavia News, bahwa yang dilakukannya ini merupakan ide pribadi dengan tujuan agar orang Betawi, khususnya para petinggi ormas Forkabi yang menyaksikan secara langsung maupun tidak langsung, bisa ikut mempunyai rasa tanggungjawab yang sama dalam rangka melestarikan seni budaya Betawi di Jakarta ini.

“Selaku orang Betawi sudah tentu kita harus menjaga serta melestarikan seni budaya Betawi agar tidak punah dilindes dengan budaya-budaya barat yang mulai merasuki anak cucu kita. Dan, itu adalah tanggungjawab kita sebagai penduduk asli Jakarta. Saya berharap ke depan bukan hanya saya, tapi banyak tokoh-tokoh Betawi lain agar mau menampilkan seni budaya kita dalam berbagai acara, sebagai rasa bangga terhadap seni budaya kita,” terangnya.

Disinggung mengenai benturan yang kerap terjadi sesama Ormas Betawi, H. Muhayar dengan nada bicara yang sedikit agak pelan menandakan kekecewaan yang cukup dalam mengatakan, sangat menyesali hal tersebut. Kelakuan seperti itu tak ubahnya seperti kelakuan anak kecil yang ketika menginginkan sesuatu harus dia dapatkan, walau harus dengan cara yang tidak terpuji. Tentunya hal ini juga menjadi tanggungjawab kita sesama orang Betawi untuk mencari jalan keluarnya.

“Saya rasa para pemimpin ormas harus bisa mencari jalan keluarnya. Mungkin dengan cara pembinaan atau melalui komunikasi yang baik dengan kita mau duduk bersama-sama dalam menghadapi masalah agar semua masalah itu bisa clear. Kalau saya melihat, saudara kita yang ada di ormas lain itu ada oknum yang mengambil langkah untuk kepentingan pribadinya sendiri dengan tujuan ingin mengobok-obok Betawi. Ini sebenarnya yang harus kita waspadai. Kenapa? Karena kalau kita lihat para anggota yang ikut dalam organisasi Betawi selain Forkabi itu lebih banyak etnis di luar Betawi,” ungkapnya.

Karena itu, tambah H. Muhayar, dirinya berharap pada teman-teman, khususnya anggota Forkabi di wilayah Kebon Jeruk, untuk terus meningkatkan silaturahim dalam rangka memupuk kekompakan dalam hal apa pun dan terus melakukan koordinasi. “Kalau memang kita sudah kompak jangan kata orang, mesin giling juga kita jorogin rubuh. Atas nama Ketua DPC Forkabi Kebon Jeruk, dengan amat sangat saya minta mari sama-sama kita bangkitkan kembali kekompakan di organisasi Forkabi. Di samping itu mari kita kembangkan seni budaya Betawi yang merupakan bagian dari identitas kita selaku anak Betawi,” pungkasnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: