Pimpinan Ormas Betawi Harus Mampu Melakukan Pembinaan

Kerap terjadinya bentrokan antar Ormas Betawi merupakan masalah yang harus disikapi dan dicari jalan keluarnya agar hal tersebut tidak terjadi lagi. Realitas ini merupakan tanggungjawab dan ‘pekerjaan rumah’ para tokoh serta elit Betawi baik yang ada di dalam ormas Betawi maupun Badan Musyawarah (BAMUS) Betawi.

Drs. H. Syafei Saidi, MM

Sehingga ke depan, para pengurus maupun anggota Ormas Betawi bisa menyamakan persepsi dan visi misi mereka dalam merealisasikan tujuan untuk mengangkat harkat dan martabat Kaum Betawi. Belum lama ini Batavia News sempat berbincang-bincang dengan salah seorang tokoh Betawi Jakarta Pusat Drs. H. Syafe’I Saidi, MM menanggapi kerapnya terjadi bentrok antar Ormas Betawi.


Di antara senyum khas yang mengembang salah seorang tokoh Betawi Jakarta Pusat Drs. H. Syafe’i Saidi, MM menuturkan, memang agak sulit dalam menyikapi bentrokan yang kerap terjadi di antara sesama Ormas Betawi. Walau semua Ormas Betawi yang ada, apalagi yang bernaung di BAMUS Betawi, mempunyai tujuan yang sama dalam rangka mengangkat harkat martabat kaum Betawi di kampung halamannya sendiri.

“Meski visi misi Ormas Betawi agak seragam, namun kita tak bisa memungkiri bahwa dalam teknik manajerialnya atau pelaksanaannya ada hal yang berbeda dari masing-masing Ormas Betawi yang ada. Dalam sudut pandang pelaksanaan, realitas yang terjadi di bawah timbul kesan bahwasanya ada Ormas Betawi yang lebih mengunakan otak dan ada juga yang lebih menggunakan otot. Karena kurangnya sinerjitas di antara Ormas Betawi yang ada dalam merealisasikan visi misinya maka otomatis tidak ada singkronisasi di antara Ormas Betawi.

Yang kerap muncul di arus bawah justru terjadi benturan yang pada akhirnya tetap membuat malu Betawi yang selama ini dikenal sebagai etnis yang religius,” ungkapnya panjang lebar.

Tokoh Betawi yang akrab disapa Babe Pe’i itu menambahkan, dikarenakan kurangnya konsolidasi dan kurangnya perhatian para petinggi ormas terhadap pengurus serta anggota yang ada dibawahnya, sehingga pendalaman yang dimaksud oleh masing-masing organisasi itu kurang begitu dicerna oleh anggota yang ada di bawah. “Harusnya para anggota itu diberikan pembekalan atau pembinaan dalam menangani masalah yang kerap terjadi di lapangan. Diakui atau tidak, sering terjadinya benturan itu kan dikarenakan masalah lahan. Artinya, kalau memang hal itu bisa menimbulkan kerugian pada kedua belah pihak kenapa harus dilakukan juga?” ungkapnya.

Kalau kita kerucutkan, tambah Babe Pe’i, ‘bapak’ dari Ormas Betawi ini kan BAMUS Betawi. Sebagai ‘orang tua’ tak ada salahnya dan tak ada susahnya untuk mengumpulkan semua elit atau tokoh Ormas Betawi yang bernaung di BAMUS Betawi. “Coba diadakan suatu penyegaran dalam artian masalah kepemimpinan dari tingkat bawah sampai tingkat atas. Terkadang hal seperti itu suka dilupakan. Lalu masalah egoistis kita, emosional kita selaku pengurus ormas harus bisa meredam itu dengan kembali pada Al-Qur’an dan Hadits. Kan katanya etnis Betawi etnis yang religius. Kalau kita selaku pengurus ormas kembali pada dua hal itu, insya Allah tidak akan lagi terjadi gesekan-gesekan sesama ormas Betawi,” imbuhnya.

Di samping itu, masih kata Babe Pe’iI, sebagai pimpinan ormas tentunya mereka juga harus mampu melakukan pembinaan terhadap jajaran pengurus dan anggota ormasnya. Mau di bawa kemana sih sebenarnya ormas ini. Kalau masing-masing pimpinan ormas menyadari bahwasanya sesama anak Betawi kita ini bersaudara meski beda ‘bendera’ tentu kesadaran itu mampu meminimalisir kesalahpahaman yang biasanya berujung pada bentrok pisik. “Kita kan harus tahu diri juga kalau kita bentrok sesama anak Betawi, apalagi satu kampung, yang di luar Betawi kan tepok tangan. Bukan tepok tangan lantaran memuji kita hebat, tapi tepok tangan lantaran melihat kebodohan kita yang suka ribut terhadap sesama karena persoalan yang biasanya sepele,” terang Babe Pe’i dengan memperlihatkan gurat kekecewaan diwajahnya.

Beliau juga mengatakan, harusnya ormas Betawi yang ada ini berpikir strategis ketimbang harus jual beli dan selesai begitu saja pada setiap moment yang ada. Hal itu kerap disuarakannya pada pengurus Ormas Betawi. “Kalau masalah Pilgub, Pileg, dan Pilpres itu kan hanya kebetulan saja karena memang sudah menjadi agenda dari pemerintah. Selaku ormas yang memiliki visi misi jelas sepatutnya Ormas Betawi jangan cuma kelihatan aktif ketika ada moment tersebut dan kembali mati suri ketika dirasa tak ada moment yang memungkinkan untuk melakukan jual beli massa,” tegasnya.

Walau moment itu sudah selesai, menurut Babe Pe’i, Ormas Betawi harus tetap berjalan dan terus berjuang dalam merealisasikan visi misinya. “Kalau moment-moment besar itu memang kebenaran kita lewatin ya jangan sampai tidak bisa kita manfaatkan. Saya berharap Ormas Betawi yang ada ini harus mempunyai langkah strategis kedepannya. Sebagai ormas yang ingin mengangkat harkat martabat dikampung halamannya, kita harus bisa merebut hati masyarakat karena Jakarta sekarang ini adalah sebuah Ibukota Negara yang terdiri dari berbagai macam etnis,” ungkapnya.

Kalau etnis kita mau maju, tambah Babe Pe’i, sebelum kita menghargai etnis lain cobalah kita menghargai etnis kita dulu. Jangan bentrok terus. Intinya, dari semua ini kalau menurut Babe Pe’i secara pribadi dalam menjalankan roda organisasi ini para pimpinan harus kembali pada Al-Qur’an dan Hadits. Serta belajar untuk menghargai diri atau etnis sendiri, sebelum menghargai orang atau etnis lain.

Fadillah Fahmi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: