Sukses adalah Kebaktian yang Sempurna

Bila di dalam sebuah diskusi sang pembicara menanyakan siapa yang ingin hidup sukses, saya hakul yakin semua peserta yang hadir akan mengacungkan tangannya. Pasalnya, siapa yang tak ingin sukses dalam hidup yang boleh dikatakan teramat singkat ini?

Dapat dipastikan semua orang ingin hidup sukses. Semua berlomba, semua berjuang dengan kemampuan individu masing-masing untuk memeluk kesuksesan itu dan kalau bisa tak ingin melepaskannya lagi. Semua orang sadar bahwa kesuksesan itu penting untuk menggapai kesempurnaan hidup, meski tidak semua orang sadar bahwa dalam meraih kesuksesan diperlukan bantuan orang lain –baik secara langsung mupun tidak.

Kita yang sadar bahwa kesuksesan hanya bisa kita raih dengan bantuan orang lain karena itu sesuai dengan fitrah kita selaku makhluk sosial, maka kesadaran itu mendorong kita untuk membuka diri dalam berinteraksi dengan orang lain, bahkan siap membantu atau bahkan berkorban demi kesuksesan orang lain. Sementara kita yang kurang menyadari kiat dalam menggapai sukses sementara ingin sukses akan melakukan hal yang sebaliknya.

Maka tak aneh, apabila kita masuk dalam tipe orang kedua, kita akan sesumbar apabila telah merasa sukses. Dan dengan angkuhnya mengatakan bahwa kesuksesan itu dapat kita raih karena kehebatan kita. Tak ada tempat secuil pun bagi orang lain yang dapat kita anggap berjasa dalam mengantarkan kita ke gerbang kesuksesan. Kalau tidak sukses, maka dengan mudah pula kita melempar kegagalan kita dalam meraih sukses dengan menyalahkan orang lain.

Ada sejarah dunia menarik yang dapat kita petik hikmahnya berkaitan dengan kesuksesan. Anda tentu masih ingat dengan Edmund Hillary sebagai orang pertama yang menaklukkan Puncak Mount Everest yang merupakan gunung tertinggi di dunia. Karena prestasinya usai perang Dunia II itu, ia mendapatkan gelar kebangsawanan Sir dari Ratu Inggris Elizabeth II dan menjadi orang yang paling dikenal seantero jagat. Tapi tahukan Anda bahwa kesuksesan yang diraihnya itu atas bantuan sang pemandu yang bernama Tenzing Norgay?

Saat salah seorang wartawan bertanya pada Tenzing Norgay, “Anda kan pemandu bagi Edmund Hillary, tentunya posisi Anda berada di depan dia. Bukankah seharusnya Anda yang menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di Puncak Mount Everest?”

Dengan santai Tenzing Norgay menjawab, “Saya memang pemandu Edmund Hillary. Tetapi ketika tinggal selangkah lagi mencapai puncak, saya persilahkan dia berjalan duluan dan menjadi orang pertama di dunia yang berhasil menaklukkan Puncak Mount Everest.”

“Mengapa Anda lakukan itu?” cecar sang wartawan.

“Sebab itulah impian Edmund Hillary, dan bukan impian saya. Impian saya adalah sukses membantu dan mengantarkannya meraih impiannya,” sahut Tenzing Norgay tulus.

Luar biasa, kesadaran akan pentingnya membuat pribadi yang sukses dengan membantu orang lain menjadi sukses menjadikan Tenzing Norgay sebagai pribadi yang rela dan ikhlas dalam berbuat kebajikan. Dengan sadar ia menyerahkan kesempatan emas di tangannya kepada orang lain. Sehingga, orang lainlah yang menjadi hero, menjadi selebritas dunia. Lantas, apakah Tenzing Norgay tidak menjadi hero? Tentu saja Tenzing Norgay juga menjadi hero di kelas pemandu sementara Edmund Hillary menjadi hero dikalangan pendaki gunung. Kedua-duanya menjadi sukses di profesi yang berbeda.

Jelas, kesadaran bahwa kesuksesan itu hanya bisa diraih dengan bantuan orang lain itu penting kita miliki agar kita tidak melupakan fitrah kita sebagai makhluk sosial. Salah satu cara untuk menggapai kesadaran tersebut adalah dengan memberikan kebaktian yang sempurna dalam profesi yang kita jalani. Karena kebaktian yang sempurna adalah mengorbankan sesuatu yang kita cintai untuk dinikmati secara bersama-sama.

Siapkan kita menggapai sukses dengan bakti yang sempurna sebagai manifestasi dari rasa loyalitas dan tanggung jawab terhadap amanat profesi yang kita emban? Jika kita siap, berarti kita akan menggapai sukses dengan membantu atau bantuan orang lain dan bukan dengan mengorbankan orang lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: