FBR, Rempug Mengawal Tangerang

LEEking

Kota Tangerang yang melalui walikotanya sangat banyak mendapatkan prestasi dan penghargaan utamanya bidang pendidikan, menjadikan kebanggaan luar biasa para warganya. Terlebih ada sebuah impian mulia walikota bahwa Kota Tangerang harus menjadi Kota Pendidikan. Impian atau yang lebih tepatnya disebut komitmen walikota ini dibuktikan dengan besarnya alokasi anggaran untuk sektor pendidikan yang mencapai 48% dari total APBD (TA) 2005. Dalam kurun waktu 2004 – 2007, tercatat 300 gedung sekolah dibangun dengan menelan anggaran sebesar Rp. 299.9 miliar. Di samping itu, anggaran kesejahteraan guru juga selalu mendapat kenaikan tiap tahunnya. Pada tahun 2004 sebesar Rp.1.7 miliar, tahun 2005 Rp. 24.5 miliar, tahun 2006 Rp 40,6 Miliar, tahun 2007 Rp. 52.5 miliar dan Rp. 50 miliar pada tahun 2008.

Drs. Solihin, politisi muda dari partai berlambang Ka`bah yang duduk di Komisi A DPRD Kota Tangerang menilai bahwa hal ini sangat cukup baik dan membanggakan. Betapa tidak, sebab bukan cuma itu, Departemen Keuangan RI saja memberikan penghargaan kepada Kota Tangerang melalui Walikotanya sebagai Daerah Berprestasi Berdasarkan Kinerja Keuangan, Kinerja Ekonomi dan Kesejahteraan, tahun 2009. Belum lagi ada penghargaan Amal Bhakti dari Departemen Agama pada tahun 2010.

Lebih lanjut, Ketua Korwil FBR Kota Tangerang yang karib disapa Bang Leeking, menandaskan, Kota Tangerang sangat mampu untuk menjadi Kota Pendidikan seiring dengan berjalannya waktu. Namun, dalam hal pendidikan, Bang Leeking juga menyoroti aspek budaya sosial masyarakat Betawi sebagai penduduk asli Kota Tangerang. Bahwa, gagasan Tangerang Berakhlakul Karimah adalah sejalan dan seirama dengan corak warna budaya masyarakat Betawi yang agamis dan toleran terhadap perubahan.

Apalagi, masih kata Bang Leeking, Kota Tangerang dalam beberapa masa ke depan bisa menjadi wilayah Metropolitan kedua setelah Jakarta. Di mana kota metropolitan sangat rentan dengan datangnya sekian jenis perkembangan sosial budaya masyarakat dari luar yang mungkin saja sangat bertolak belakang atau bahkan merusak tataran dan tatanan budaya asli sebagai jatidiri bangsa. “Maka pembangunan pendidikan melalui sarana pisik agaknya juga harus dilengkapi dengan pembangunan jiwa sosial kemasyarakatan melalui media seni budaya social dan kebudayaan,” imbuhnya.

Dalam hal ini, tambah Bang Leeking, peranan FBR sebagai ormas kedaerahan bisa sangat signifikan untuk mendukung upaya pengembangan dan pelestarian kultur budaya asli anakbangsa. “Fungsi dasar keberadaan Ormas antara lain sebagai pertama, wadah pengembangan dan pembinadayaan aspirasi anggota. Kedua, kontrol sosial dan kontrol politik. Ketiga, mitra pemerintah yang sejajar; dapat dijadikan dasar pijakan dan landasan umum untuk mensiarkan Kota Tangerang sebagai Kota pendidikan Berakhlakul Karimah melalui sekian deret kegiatan kepemudaan dalam aspek budaya, kesenian, dan bahkan keagamaan,” papar Bang Leeking.

Sebab, tambahnya, pemuda adalah pilar pembangunan dan generasi yang harus dicetak yang di kemudian hari pada estafet perguliran dinamika demokrasi kepemimpinan akan harus menjadi pemimpin dan masyarakat yang berbudaya Islami dan berakhlakul karimah.

Dalam proses dan pelaksanaan program pendidikan sosial budaya dan kebudayaan di Kota Tangerang, menurut Bang Leeking, peran serta dan kontribusi ormas kedaerahan sekelas FBR yang jaringan dan anggotanya sangat signifikan se Jabodetabek, ditambah dengan sistem imamah yang diberlakukan sangatlah diperlukan dalam merealisasikan visi misi demi kemajuan Kota Tangerang. “Artinya, menggandeng FBR akan menjadi sebuah langkah maju baik dari sisi pembinaan pemuda maupun pengembangan budaya dan pencapaian Kota Tangerang menjadi Kota Pendidikan,” imbuhnya.

Organisatoris muda ini menambahkan, bicara pendidikan maka artinya kita harus memperhatikan lebih dahulu aspek wawasan keilmuan nonformal masyarakatnya untuk kesejahteraan ekonominya. Ini sangat berkaitan erat dengan aspek pendidikan itu sendiri seperti pendidikan moral, pendidikan kebangsaan, pendidikan agama, pendidikan budaya, pendidikan sosial, pendidikan demokrasi, pendidikan politik, dan bukan sekedar pendidikan formal melalui sekolah belaka.

“Artinya, upaya pendidikan formal bisa dilakukan lewat sekolah dengan membangun sarana dan prasarana yang memang memadai serta layak untuk itu. Tapi di sini, kita tidak bisa melupakan bentuk pendidikan informal di masyarakat luas yang bahkan lebih bisa menjadikan atau membentuk karakter seseorang. Harus ada peranan pemerintah melalui kegiatan masyarakatnya dalam upaya mewujudkan betuk pendidikan informal masyarakat.   Walau pendidikan informal tak mendapatkan ijazah atau diploma, namun diakui biasanya ini lebih tertanam kuat untuk membentuk dan menjadikan karakter seseorang, apakah akan menjadi manusia yang berakhlaqul karimah atau sebaliknya,” demikian ungkap Bang Leeking.

Dengan santun namun berwibawa, Bang Leeking menegaskan, walau bukan satu-satunya Ormas yang ada, namun FBR Kota Tangerang sebagai salah satu elemen inti masyarakat Betawi di Tangerang, memiliki komitmen dan cita-cita yang sama dengan walikotanya. FBR mendukung segenap upaya pembangunan yang dilakukan pemerintah, dan selayaknya pemerintah membuka lebar-lebar pintu kesempatan bagi para warga FBR, khususnya dan pemuda Tangerang umumnya untuk mengembangkan diri melalui program-program kegiatan kesenian dan kebudayaan.

“Mengajak dan menggandeng FBR sangat mudah dilakukan. Komando serta garis imamah di FBR sangat memungkinkan sebuah upaya pembangunan berjalan dengan lebih cepat dan terarah sesuai porsinya. Kita tinggal merumuskan sebuah program pendidikan sosial budaya yang integral yang melibatkan pemuda bangsanya secara lebih aktif dan pro aktif. Di mana, di sisi lain, supervisi dan evaluasi dari pemerintah berjalan secara sinergi dengan program itu sendiri,” tegasnya.

Menutup wawancara santai dengan denjaka dari Batavia News, majalah Betawi atu-atunya, Bang Leeking menyampaikan SALAM REMPUG disertai pesan kepada segenap warga FBR se-Kota Tangerang agar merapatkan barisan, menjaga keamanan dan stabilitas kampung masing-masing agar nyaman, aman, dan selalu kondusif. Meningkatkan ukuwah kemitraan dan selalu mewujudkan kasih sayang dengan ikhlas dan cerdas. “Koordinasi serta silaturahmi sesama warga FBR harus terus terjaga dan terbina, untuk tetap setia mengawal Kota Tangerang yang berakhlaqul Karimah menjadi Tangerang Kota Pendidikan yang berakhlaqul Karimah,” tandasnya.

FBR Kompak. Betawi Satu. Betawi Maju.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: