Bakul dan Betawi

HIRUK PIKUK menyertai roda kehidupan di Jakarta. Penuh fenomena –mulai dari fenomena yang penuh kebusukan sampai fenomena yang penuh keharuman—yang harus kita hadapi dan jalani sebagai konsekuensi logis menjadi makhluk sosial. Namun sayangnya, tak ketinggalan juga fenomena rintihan dan tangisan yang menyelimuti warga Betawi. Yang konon kata pemerhati sejati, tiada daya dan upaya yang dapat mengobati sehingga warga Betawi bagai hidup terbelenggu di dalam peti.

Fenomena tersebut adalah makanan kita sehari-hari. Buah dari tabiat dan ambek serta ngambulin yang sebakul. Membuat kita (baca: mayoritas Betawi) mati berdiri atau bagai hidup di dalam tangsi, dan yang ogah mati berdiri dengan berat hati pada mengungsi.

Buka mata dan buka telinga. Sudah banyak saksi yang dapat kita evaluasi. Di era reformasi ini di mana sudah banyak juga orang Betawi yang ‘pada jadi’ namun sayangnya banyak yang pada lupa diri.

Memang, ketika seseorang berkuasa dan jadi budak kekuasaan, lambat laun dia ingin menggunakan kekuasaannya untuk mencari keuntungan sendiri. Memang, bagi yang lemah iman, kekuasaan dapat membuat orang pada lupa diri dan akhirnya menjadi budak kekuasaan itu sendiri. Makanya gak aneh kelamaan orang berkuasa dapat menjadikannya sebagai orang yang lupa akan Tuhannya.

Selain menjadi hamba kekuasaan, orang semacam itu juga akan menjadi hamba materi. Apa yang dipikirkannya adalah melulu soal bagaimana melebarkan –minimal melanggengkan—kekuasaan demi untuk memperkaya diri.

Padahal, hakekatnya, yang paling berbahaya adalah penyembahan kepada hawa nafsu. Menjadikan nafsu sebagai panglima dan bukan sebagai kuda tunggangan. Ambisi diri yang erat dalam selimut hawa nafsu selalu bersemayan di dalam dada. Mau dada bidang atawa dada kerempeng, ambisi diri yang erat dalam selimut hawa nafsu itu selalu ada. Namun, keberadaannya susah diketahui oleh orang lain. Bahkan, oleh dirinya sendiri.

Kekerasan janganlah dibalas dengan cara-cara kekerasan yang sama, tetapi harus dibalas dengan cara-cara yang lebih arif dan bijaksana. Saling menghargai dan mendengarkan. Duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi untuk mencari penyelesaian masalah dengan baik. Cara tersebut adalah solusi yang berarti. Khususnya buat fungsionaris Ormas Betawi, yang bernaung ataupun tidak –karena gak ada bedanya—di BAMUS Betawi. Karena aktif di organisasi emang buat meningkatkan SDM agar harkat dan martabat terangkat. Bukan buat betangtang betengteng kagak pugu lagu kayak koboi kagak punya kuda.

Hilangkan rasa iri dan tendang jauh-jauh rasa dengki guna melalui hari-hari dalam suasana yang serasi untuk mencapai hari depan yang mewangi. Buang jauh-jauh ‘bakul’ yang menyelimuti pada diri orang-orang Betawi. Rapatkan barisan dan jalin silaturrahmi agar orang-orang Betawi tidak digono-gini oleh oknum-oknum yang sembunyi di dalam maupun di luar Ormas Betawi. Yang di mulut ngomong berjuang untuk mengangkat harkat dan martabat kaum Betawi, tetapi di hati berniat ‘memperalat’ orang Betawi untuk memperluas atawa melanggengkan kekuasaannya untuk mengangkat harkat dan martabat sanak keluarganya ke ‘menara gading’ yang paling tinggi.

Begitu, lho…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: