Jagoan bukan Preman

MANUSIA hidup di dunia diberikan kebebasan oleh Penciptanya. Tetapi, karena manusia itu juga makhluk sosial, maka kebebasan tersebut tidak lantas berarti bebas an sich. Bebas sebebas-bebasnya! Melainkan tetap ada batasannya. Ada aturannya sampai di mana manusia dapat menggunakan kebebasannya agar tidak berbenturan dengan kebebasan manusia lainnya. Sebab, kalau manusia itu dibiarkan hidup liar sebebas-bebasnya alias seenak udelnya, maka tatanan kehidupan pun akan kontra produktif karena akan merusak sistem atau pola kehidupan itu sendiri. Jadi, memang tidak ada kebebasan yang bebas di atas dunia ini.

Di alam ‘kebebasan’ ini pula kita sering mendengar istilah preman. Sebuah istilah yang berasal dari kata free dan man. Maksudnya, manusia bebas. Dan istilah freeman itu kita gampangkan dengan istilah preman, Secara sosiologi, preman lahir dari adanya dialektika kehidupan. Ketika peradaban manusia semakin maju dalam mementaskan persaingan, ia melahirkan gapgap sosial. Di antara sebagian manusia yang tidak mampu bersaing dan merasa tidak tersentuh oleh dampak kemajuan peradaban itu, akhirnya cenderung memilih berontak terhadap kemapanan.

Manusia-manusia ini kemudian hidup di luar peradaban etika dan estetika yang berlaku, di luar aturan dan norma yang diciptakan oleh manusia lainnya berdasarkan kesepakatan sejalan dengan tuntutan perkembangan peradaban. Karena itulah (mungkin) kesan preman menjadi sangat buruk karena ia adalah manusia yang (ingin) bebas dan siap melanggar norma dan melabrak peraturan yang ada. Bebas dari tanggung jawab sosial, kultur, dan hukum. Kasarnya, manusia yang selalu menentang batas-batas sosial, kultur atau budaya, dan hukum karena merasa tidak mampu bersaing secara sehat.

Seiring dengan perkembangannya, akhirnya istilah preman tidak hanya disandangkan kepada kelas sosial terendah, melainkan menanjak drastic menjadi sebuah predikat yang umum. Setiap manusia yang hidupnya senantiasa melanggar aturan bisa disebut preman. Walhasil, ada preman pasar, preman berdasi, preman berseragam, preman hukum, preman politik, bahkan preman keagamaan. Apapun objek garapannya, preman tetap saja negatif. Tetap jahat. Jadi, yang perlu digarisbawahi adalah, bahwa preman itu bukan diciptakan oleh ketidakadilan politik, ekonomi, dan pendidikan. Pada akhirnya, realitas tersebut mengoreksi teori sosiologi tentang lahirnya kaum preman di atas.

Ada lagi sebuah predikat sosial yang disebut dengan jagoan. Secara umum istilah tersebut terkesan agak negatif karena mencerminkan ‘keakuan’ dan merasa superior. Sifat ‘keakuan’ dan merasa superior adalah sifat yang buruk karena merasa diri ‘paling’ di antara sesama manusia, dan menyiratkan kesombongan. Sama seperti iblis yang merasa ‘paling jagoan’ di antara makhluk-makhluk Allah. Tetapi predikat ini menjadi relatif untuk ditafsirkan. Ia bisa ditafsirkan senegatif istilah ‘preman’, namun bisa juga diartikan secara positif.

Secara positif, istilah jagoan terkadang disandingkan pada kelebihan bakat dan keahlian seseorang. Seperti, umpamanya, ahli silat sering disebut sebagai ‘jagoan silat’, ahli ngaji disebut ‘jagoan ngaji’, ahli seni disebut ‘jagoan seni’, dan lain sebagainya. ‘Jagoan’ di sini jelas bukan menjadi predikat negatif, ia malah menjadi predikat keahlian seseorang. Jadi, dalam kasus ini jangan disamakan antara ‘jagoan’ dengan ‘preman’.

Orang Betawi pada masa lampau sudah mengenal predikat jagoan. Bahkan orang Betawi banyak yang menjadi jagoan. Ampir di tiap kampung di Tanah Betawi ada jagoannya. Di masa perjuangan melawan penjajah Belanda, banyak banget orang Betawi yang menjadi jagoan. Disebut jagoan karena ia gemar membela kaum lemah dari ketertindasan dan ketidakadilan kaum penjajah. Dengan begitu, jagoan bagi orang Betawi di masa itu adalah pahlawan yang selalu membela hak-hak rakyat kecil. Dan, istilah jagoan pada masa penjajahan dulu menjadi citra yang membanggakan bagi masyarakat Betawi.

Yang ingin ditekankan di sini adalah, masih adakah citra jagoan pada masyarakat Betawi sekarang ini. Tentunya jagoan dalam membela hak-hak masyarakat. Secara kasat mata saat ini bisa dibilang banyak jagoan dalam konteks itu. Buktinya, Ormas Betawi menjamur di setiap sudut kampung di Jakarta. Sudah barang tentu ormas tersebut dibentuk dengan tujuan membela hak masyarakat. Tetapi dalam perjalanannya, selain banyaknya ormas etnik Betawi sendiri, di Jakarta sendiri banyak lahir ormas-ormas etnis lain.

Realitas itu membuat kehidupan kembali memainkan dialektikanya. Apalagi kehidupan di Jakarta yang memang memerlukan standar hidup biaya tinggi, tidak dipungkiri tujuan ormas didirikan pun ‘melenceng’ hanya ke arah perebutan lahan ekonomi demi standar hidup tadi. Akhirnya, terjadi ‘perang pengaruh’ di antara ormas-ormas yang ada untuk ‘diakui’ di tengah ‘pasar’ ekonomi. Perkelahian dalam ‘perang’ memperebutkan lahan garapan pun kerap terjadi. Nah, jika keadaan seperti ini dibiarkan terus-menerus, maka istilah ‘jagoan’ bisa sederajat dengan ‘preman’. Karena yang berkelahi demi kemakmuran diri sendiri dan kelompoknya adalah preman, bukan jagoan.

Walhasil, dengan banyak terlibatnya Ormas Betawi dalam ‘persaingan’ meraih standar hidup di Jakarta pun menjadikan citra Ormas Betawi negatif. Sialnya, orang kini senang menggeneralisir persoalan. Satu Ormas Betawi yang bernila, nodanya melumuri seluruh warga Betawi. Jika sudah begitu, rasanya kita memang perlu mencari ‘jagoan’ yang mampu meluruskan persoalan ini.

Ya, jagoan, bukan preman!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: