MAKAM ‘MBAH PRIOK’ MILIK UMAT

Rangkaian peristiwa paska Tragedi Koja masih menjadi perhatian publik. Antara kebijakan, pelaksanaan kebijakan serta keberpihakan kebijakan Pemprov. DKI Jakarta, dan terakhir kesimpulan serta pertanggungjawaban atas pelaksanaan kebijakan yang dimaksud masih ditunggu masyarakat.

KH. Luthfi Hakim, MA. Ketum Forum Betawi Rempug

Aspek penilaian masyarakat Betawi khususnya dan penduduk Jakarta umumnya terhadap kondite pemprov dalam keberpihakan kebijakan itu sendiri menjadi hal yang sangat mendasar dalam masalah ini. Secara khusus, Ketua Umum atau Imam Besar Forum Betawi Rempug (FBR) KH. Luthfi Hakim, MA memberikan pernyataannya kepada Fadilah Fahmi dan Dendi J. Kurniawan dari Batavia News, majalah Betawi atu-atunya, mengenai pandangan serta peranan FBR sebagai salah satu elemen Betawi dalam menjaga eksistensi seni budaya dan peradaban kaum Betawi. Tujuannya, agar kaum Betawi bisa menjadi juragan di kampung halamannya sendiri.

Ketua Umum (Imam Besar) FBR se-Jabodetabek KH. Luthfi Hakim, MA dengan tegas menyatakan, orang Betawi sangat menghormati ulama dan habaib. Ini sudah menjadi kebiasaan atau kehidupan sosial budaya dari masyarakat Betawi. Maka reaksi penolakkan atas pembatasan kebebasan kegiatan beragama wajar terjadi. Pembatasan 10 orang yang berziarah menjadi pengekangan dalam kebebasan beragama. Memang Pemprov tidak bermaksud membongkar atau menggusur makam Mbah Priok. Namun, menertibkan  bangunan-bangunan di sekitarnya yang menjadi fasilitas kegiatan umat seperti tahlilan, pengajian, ziarah, dan sebagainya merupakan pengebirian atas kebebasan beragama yang jelas dilindungi Undang Undang.

“Bila fasilitas di sekitar makam Mbah Priok itu digusur, walau makamnya tetap berdiri, itu sama saja dengan Pemprov telah menggusur aktivitas atau kegiatan sosial budaya umat. Bila pada tiap malam Jumat ada seribu lebih umat yang ziarah atau bertahlilan, maka walau atas nama pembangunan, pembatasan hanya 10 orang adalah pelanggaran kebebasan beragama,” tegasnya.

Forum Betawi Rempug, tambah KH. Luthfi Hakim, MA, bukan ormas Islam. FBR adalah ormas kedaerahan yang sangat menghormati dan menjaga eksistensi tataran sosial dan tatanan budaya asli masyarakat Betawi yang secara historis sudah berlangsung sejak ratusan tahun. “Kita sangat menghormati Ulama, Wali, dan Habaib, walau itu hanya sekedar makamnya belaka. Namun, ini yang harus diingat, di sana ada jejak-jejak sejarah atas perjuangan mereka dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Di mana lewat jejak sejarah tersebut umat bisa tahu bahwa mereka telah berjuang selama kurun waktu tertentu dalam menyebarkan da`wah Islam,” terang KH. Luthfi Hakim, MA.

Penghargaan dan adab penghormatan ini, tambah KH. Luthfi Hakim, MA, adalah budaya sosial masyarakat kita, khususnya masyarakat Betawi. Sudah barang tentu masyarakat menolak upaya penggusuran atau penertiban atau pelarangan atau pengekangan terhadap kebebasan beragama. “Sejak tahun 2004 lalu, ketika Imam Besar FBR Alm. KH. Fadholi El Muhir masih ada di tengah umat FBR, beliau sudah mencoba memediasi antara Pemprov, Ahli Waris, dan Pelindo,” ungkap KH. Luthfi Hakim, MA.

KH. Luthfi Hakim MA menambahkan, bahwa sebuah upaya merusak tatanan kepercayaan dan kegiatan keagamaan yang selama ini sudah berlangsung adalah melanggar UU No.1 Thn 65 tentang penodaan dan penistaan agama. Mengenai makam Mbah Priok, bangunan majelis ta`lim, dan lain sebagainya hendaknya dipandang sebagai wakaf dan itu milik umat dan bukan sekedar dianggap milik ahli waris belaka. Sebab, ada banyak sumbangan dan wakaf orang di sana.

“Jadi, upaya mempertahankan makam oleh umat Islam jangan diangap sebagai mempertahankan aset atau lahan, tapi mempertahankan adab, sosial budaya masyarakat dalam beragama. Saat ini masalah makam boleh kita anggap sudah selesai dengan pernyataan janji Presiden SBY yang disiarkan secara nasional bahwa Makam Mbah Priok akan dijadikan situs sejarah. Masalah yang masih tersisa adalah lebih kepada masalah sosial kemasyarakatan paska kejadian. Ada pelanggaran HAM di sana yang disebabkan oleh tindakan represif dari aparat,” ujarnya.

Menananggapi proses interpelasi DPRD di Kebon Sirih tentang pertanggung jawaban Gubernur, menurut KH. Luthfi Hakim, MA, Gubernur tidak bisa hanya menyalahkan atau menimpakan kesalahan pada pelaksana di lapangan. “Kalau tak ada instruksi dari atasan, Satpol PP tak mungkin bergerak tanpa ada komando. Seharusnya Gubernur langsung menyatakan rasa bersalahnya dan meminta maaf kepada masyarakat karena tidak menghormati nilai-nilai sosial budaya keagamaan tersebut. Penonaktifan Harianto Badjuri adalah keputusan banci. Ini seperti melakukan kesalahan dan menimpakannya kepada orang lain,” tegas KH. Luthfi Hakim, MA seraya menerangkan sewaktu Nabi Adam AS digoda oleh iblis untuk memakan buah khuldi sehingga diusir ke dunia, Nabi Adam AS tidak menyalahkan iblis, bahkan Nabi Adam AS mengakui bahwa dialah yang zholim.

Karena itu, menurut KH. Luthfi Hakim, MA, Gubernur yang harus bertanggungjawab dan tidak boleh menyalahkan orang lain, atau melemparkan tanggung jawab kepada anak buah. “Pemimpin harus sanggup mengesampingkan persoalan pribadinya. Jadi, tidak bisa diterima walau dalam alasan berkabung dan dukacita lalu jadi terlambat untuk sekedar minta maaf kepada umat dan masyarakat. Jangan karena banyak desakan baru minta maaf. Harusnya, pada hari H, Gubernur muncul meminta maaf dan langsung mengakui kesalahannya,” imbuh KH. Luthfi Hakim, MA.

Apalagi, tambah KH. Luthfi Hakim, MA, terjadi keteledoran secara administratif. Ada surat beratas nama gubernur, ditandatangani wakil gubernur, dan tanpa dibubuhi stempel. Sesuatu tanpa stempel harusnya tidak sah. Kalau ada orang yang jadi  pejabat, baru akan sah bila ada stempelnya. Wajar saja bila kemudian ini yang akhirnya menumbuhkan berbagai dugaan miring, ada ketidak harmonisan, ada keteledoran, ada titipan hingga muncul ketergesa-gesaan untuk segera melakukan eksekusi. Bagi KH. Luthfi Hakim MA, pemimpin harus visioner, kreatif, dan memiliki imajinasi-imajinasi yang variatif. “Makam Mbah Priok pada dasarnya bisa dijadikan sebagai obyek pariwisata baru, dengan jalur khusus dan akan mendatangkan PAD bagi pemerintah,” ujarnya.

Saat ditanyakan pandangan objektifnya mengenai Satpol PP, Mantan Sekjen FBR ini menyimpulkan bahwa tidak arif dan bijaksana bila masyarakat meminta agar Satpol PP dibubarkan, keberadaan Satpol PP untuk mengawal perda. “Kita masih butuh Satpol PP,  hanya harus ada evaluasi yang menyeluruh bagi Satpol PP,” ungkap KH. Luthfi Hakim, MA.

Menurut KH. Luthfi Hakim, MA, selayaknya persoalan apa pun yang muncul jangan dijadikan hambatan untuk maju. Sebaliknya, harus dijadikan tantangan untuk menciptakan sekian terobosan baru. Semisal, ada peraturan di Iran bahwa tidak boleh wanita tampil tanpa hijab, maka para sineas di sana kemudian tidak berorientasi kepada eksploitasi pisik aurat wanita melainkan mencoba dari sisi setting plot alur cerita yang lebih kuat dan berkarakter. Dan terbukti film-film di Iran banyak mendapatkan penghargaan Internasional walau tanpa mengedepankan aurat wanita. Allah SWT berpesan dalam firmannya; boleh jadi kamu benci pada sesuatu, padahal itu baik bagimu. Sebab, ada banyak hikmah yang bisa digali dari setiap kejadian,” papar KH. Luthfi Hakim, MA.

Menutup bincang bincang dengan Batavia News, Imam Besar FBR menyampaikan pesan kepada segenap jajaran Keluarga Besar FBR se-Jabodetabek untuk menjaga kampung masing-masing. Kampung kita adalah bagian dari Jakarta dan bagian dari Indonesia. Maka bila tiap kampung baik, Insya Allah Jakarta dan Indonesia juga baik. Tingkatkan kebersamaan dan kemitraan dengan siapa pun, dengan etnis dari mana pun, dan aparat pemerintah tingkat apa pun untuk bersama membangun Jakarta yang lebih baik ke depan. “Sebagai orang Betawi dan orang beragama, kita harus membuka pintu maaf kepada siapa pun yang mungkin bersalah. Jangan dendam yang negatif, tapi jadikan dendam yang positif. Yaitu dendam pada kesalahannya dan bukan pada manusianya serta berusaha terus-menerus melakukan perubahan untuk perbaikan dengan belajar dari masa lalu,” pungkasnya bijak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: