Mantri Sunat

BEBERAPA waktu lalu, seorang mantri di kampung kami wafat meninggalkan dunia menghadap Allah SWT. Banyak warga yang bersedih atas wafatnya beliau. Sebab, selain berjasa memainkan peran sebagai mantri dalam mengobati berbagai macam penyakit, almarhum juga dikenal sangat dermawan. Kedermawanannya diperlihatkan pada keikhlasannya yang terkadang tidak mau menerima bayaran atas jasanya mengobati rakyat kecil. Karena itu kesedihan, tangis, dan doa yang terdengar pada hari pemakamannya menandakan apresiasi warga terhadap peran sang mantri dalam kehidupan yang fana.

Lain lagi dengan sebagian anak-anak yang mengenal sang mantri dengan sebutan ‘tukang sunat’. Ya, selain menjadi mantri beliau juga dikenal mahir menyunat atau mengkhitan. Adik-adik dan sebagian sepupu saya juga kebanyakan dibebaskan dari ‘kewajiban berkhitan’ oleh tangan sang mantri tersebut. Bagi kami, yang dikhitan atau disunat olehnya, ‘tukang sunat’ merupakan orang yang sangat berjasa dalam memberi kami identitas sebagai anak-anak muslim.

Di lain waktu saya mendengar percakapan komunitas ‘seniman lokal’ dari tanah Betawi tentang jagad raya kesenian lokal. Dari pembicaraan itu terdengar nada putus asa (hampir menjurus ngambek) yang teramat dalam akan kiprah mereka dalam melestarikan dan mengembangkan kesenian lokal, khususnya kesenian Betawi. Menurut mereka, kosmos kesenian Betawi hampir berhenti berputar. Alasannya sangat klise, minimnya anggaran. Sebagai seorang seniman Betawi yang dibebankan untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian serta kebudayaan Betawi, mereka tidak ‘bisa berkutik’ sementara di lain pihak tanggung jawab struktural pihak terkait tidak ‘kelihatan’.

Nasib kesenian lokal kita memang memprihatinkan. Di ranah kultural mereka hampir takluk dengan masifnya gelombang budaya pop dan budaya ‘ecek-ecek’. Di tataran struktural ia kurang mendapat tempat yang layak untuk (sekedar) diapresiasi. Walaupun ada, sebatas kepura-puraan saja. Selama ini kesenian lokal masih dianggap sebagai ‘pelengkap’. Ada ya syukur, tidak ada juga tidak terlalu bermasalah. Tetapi begitu ia lenyap, orang tiba-tiba bertanya dan mencarinya.

Bagi saya yang bebal seni, kesenian, baik itu drama, sastra, lenong, tandjidor, blantek, dan lain sebagainya memiliki peran cukup penting dalam kehidupan bangsa. Melalui kesenian kita bisa bercermin, apakah wajah kita buruk atau cantik, masih berjerawat atawa tinggal bekasnya saja. Dengan begitu kesenian bisa menjadi sarana intropeksi, mawas diri. Kesenian juga bisa menggugah moral masyarakat. Kesenian juga bisa menjadi wadah kontrol bagi penguasa. Kesenian dapat dijadikan alat komunikasi yang efektif. Walau terkadang orang yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan kesenian sebagai alat transformasi nilai-nilai negatif.

Namun, pada intinya, kesenian punya peran penting dalam ‘menggugah’ moral dan mental masyarakat. Lantas, kenapa esensi kesenian yang demikian dahsyatnya kurang mendapat perhatian dan apresiasi sehingga banyak para pelaku seni yang mandeg dan stagnan dalam berkreasi? Setidaknya ini pandangan mereka, para seniman lokal. Di mana saat mereka asyik berceloteh, saya juga tak kalah asyiknya menguping celotehan mereka.

Sebenarnya semua orang mafhum benar akan esensi kesenian. Sebab, setiap manusia diciptakan melalui ‘tangan’ seni Tuhan. Tuhan juga berkesenian dalam menciptakan kehidupan alam semesta. Begitu pula manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan, tentu sangat menggemari kesenian sehingga setiap langkah dan gerak manusia tidak ada yang tidak bersentuhan dengan nilai-nilai seni. Cuma manusia yang otaknya error saja yang tidak berkesenian. Kalaupun ia berkesenian, akan dipastikan out put-nya juga error alias merusak.

Seorang pemimpin pasti punya seni memimpin, seorang pekerja punya seni bekerja, seorang tukang pijat punya seni memijat, seorang tukang sunat seperti almarhum tetangga saya yang saya ceritakan di atas juga punya seni menyunat, bahkan seorang koruptor pun punya seni dalam melakukan korupsi. Namun, terkadang, peran seni dalam kehidupan yang diambil harus bertabrakan dengan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.

Pada kasus ‘ketidakberkutikan’ teman-teman saya dalam melestarikan kesenian Betawi serta terombang-ambingnya nasib kesenian di tanah air tidak lepas dari peran seni sejarah sebuah rezim yang membudayakan ‘sunat-menyunat’ di dalam setiap lini kehidupan. Akhirnya, setelah sekian lama ‘dibiasakan’ oleh budaya tersebut, bukan hanya nasib kesenian yang menjadi tidak menentu, bahkan nasib sejarah bangsa juga harus menjadi korban.

Ya, sejarah bangsa ini harus rela menceritakan kegemaran kita menjadi ‘tukang sunat’. Kalau tukang sunat seperti almarhum mantri tetangga saya yang kematiannya diapresiasi dengan air mata dan doa itu tidak mengapa. Ia malah berjasa. Tetapi kalau ‘tukang sunat’ yang satu ini akan menjadi ranjau bagi bangsa menuju tanah kejayaannya. ‘Tukang sunat’ ini menyimbolkan kerakusan dan keserakahan yang tiada tara. Eksistensi ‘tukang sunat’ di sini telah merusak makna kata ‘sunat’ itu sendiri. Ya, makna kata ‘sunat’ sudah terdistorsi.

Jika sang almarhum mantri cuma gemar menyunat bagian tertentu dari anak manusia, lain dengan ‘tukang sunat’ yang satu ini. Ia ‘menyunat’ semua bagian dan hak orang lain. Jika anak yang disunat sang almarhum mantri itu menangis sesaat untuk kemudian bahagia, tidak sama dengan tangisan rakyat yang ‘disunat’ haknya. Tangisan rakyat akan terus menggema sepanjang sejarah ‘tukang sunat’ itu ada di buku kehidupan bangsa. Jadi, silahkan saja jika kita pentaskan terus cerita ‘tukang sunat’ di panggung kehidupan bangsa agar rakyat menangis terus hingga kering air matanya.

Jika memang benar masih ada apa yang dikeluhkan orang tentang merajalelanya ‘tukang sunat’ di pasar kesenian, saya jadi nggak abis pikir. Dikasih gaji sama pemerintah untuk memajukan kesenian, kok malah jadi ‘tukang sunat’ bagi kemajuan kesenian. Aneh, kan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: