Lakukan Konservasi Budaya Betawi

Dalam kesempatan yang khusus, secara eksklusif. Prof. DR. Haryono Suyono menerima kehadiran Jamiel Loellail Rora dan Denjaka dari Batavia News di kantor Yayasan Damandiri, Gedung Granadi, Kuningan, Jakarta Selatan. Sosok yang luwes, cepat tanggap, dan ramah serta sangat santun langsung dikesankan oleh sang Profesor pada pertemuan pertama. Jelas tergambarkan bahwa kecintaan dan pengabdian sang Profesor kepada segenap rakyat Indonesia agar dapat hidup sejahtera nampaknya tidak terhenti sampai pada jabatan beliau sebagai Menko Kesra Taskin di masa Kepemimpinan (Alm.) Presiden Soeharto.

Haryono Suyono

Masalah seputar kesejahteraan rakyat dan pengentasan kemiskinan masih setia menjadi hal yang concern digeluti Mantan Menko Kesra Taskin Prof. DR. Haryono Suyono yang kini masih aktif berkiprah sebagai Ketua Yayasan Dana Sejahtera Mandiri, Ketua Dewan Pembina YAPPINDO,

dan Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia Untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS). Hal ini dapat terbukti dengan gerakan dan aktivitas sosial sang Profesor yang mantan wartawan ini di segenap daerah dalam wilayah kedaulatan NKRI melalui Yayasan Damandiri dan Organisasi DNIKS. Agar masyarakat Betawi dan Jakarta bisa lebih mengetahui dan memahami aktivitas sang Profesor, khususnya di tanah Betawi, maka sang Profesor yang beristrikan wanita asli Betawi asal Kampung Melayu ini mau berbagi cerita melalui Batavia News, majalah Betawi atu-atunya.


“Pertama-tama saya mengucapkan terimakasih atas kedatangan rekan-rekan dari Batavia News. Kemudian dalam kesempatan ini saya juga ingin mengucapkan selamat kepada Ibu Fauzi Bowo yang baru saja terpilih menjadi Ketua Umum BKKBS; Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial. BKKKS adalah forum koordinasi bagi organisasi-organisasi sosial yang ada di seluruh DKI Jakarta. Maka saya dan Ibu Fauzi Bowo saat ini ada dalam satu lingkup organisasi sosial,” ujar Prof. DR. Haryono Suyono di awal perbincangan.

Prof. DR. Haryono Suyono menambahkan, ia sudah berjumpa dengan Bapak Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Dalam kesempatan itu ia menyatakan semoga dalam waktu dekat ini dapat bersilaturahmi dengan Ibu Fauzi Bowo sebagai Ketua Umum BKKKS untuk merencanakan suatu program pemberdayaan masyarakat Jakarta dan otomatis masyarakat Betawi yang ada di kampung-kampung. “Saya memandang bahwa masyarakat Betawi pada khususnya dan masyarakat Jakarta pada umumnya harus melakukan 3 hal pokok untuk meningkatkan SDM sesuai dengan peluang besar yang ada dihadapannya,” ungkap Prof. DR. Haryono Suyono.

Tiga hal pokok tersebut, menurut Prof. DR. Haryono Suyono, pertama kaum Betawi harus giat dalam melakukan konservasi budaya Betawi. Tujuannya agar budaya Betawi itu dapat diturunkan dan dilestarikan kepada generasi muda agar tetap tumbuh dan eksis di tengah keberagaman budaya bangsa di Ibukota. “Secara visioner hal ini kemudian menjadikan seni budaya Betawi bagian penting dari Taman Sari Budaya yang indah bersama dengan suku bangsa lain. Di mana keberagaman budaya di Jakarta menjadi gambaran dan cerminan budaya Indonesia. Namun dikarenakan kaum Betawi adalah penduduk inti Jakarta, maka seni budaya Betawi harus muncul sebagai budaya Indonesia dan itu harus berlaku di segenap wilayah Indonesia,” terang Prof. DR. Haryono Suyono.

Kedua, tambah Prof. DR. Haryono Suyono, kaum Betawi bersama etnis lain yang tumbuh dan berkembang di Jakarta harus menjadikan Jakarta sebagai wadah penggodokan dan pengembangan SDM yang ulung. “Sebab manusia yang dikembangankan, diberdayakan, dan disekolahkan di Jakarta mempunyai akses yang mudah terhadap dunia Internasional. Artinya, orang yang dibesarkan dan terdidik di Jakarta akan menjadi orang Indonesia yang mempunyai wawasan dunia. Hal itu dimungkinkan karena Jakarta adalah Ibukota negara di mana hampir segenap akses dan informasi sangat tersedia di Jakarta ini. Maka sangat ironis kemudian bila penduduk atau masyarakatnya malah lebih tertingal secara SDM dibanding wilayah lain,” ujarnya.

Dan yang ketiga, masih kata Prof. DR. Haryono Suyono, kaum Betawi pada khususnya dan warga Jakarta pada umumnya harus mampu menjadikan Jakarta sebagai wilayah atau lingkungan yang memberi kedamaian. Baik lingkungan yang damai buat sesama manusia, buat hewan, maupun buat tumbuh-tumbuhan. Jakarta sebagai ibukota negara berisikan segenap manusia dari berbagai belahan dunia. Maka bila di Jakarta terjadi konflik, terjadi kerusuhan, akan berimplikasi pada dunia internasional dan tidak kondusif bagi pembangunan.

“Maka siapa pun yang merasa memiliki Jakarta dan mencintai Jakarta dituntut untuk memiliki kepedulian yang tinggi pada lingkungan yang memberikan kedamaian pada segenap penghuninya. Bisa dibayangkan bila kemudian kita datangi rumah warga Jakarta, rumah itu bukan penuh dengan kotoran atau sampah. Melainkan rumah yang asri karena dipenuhi dengan tanaman yang hijau atau tanaman yang bisa dimakan setiap hari. Semisal tanaman kangkung, cabe, bayam, tomat, terong, atau tumbuhan sayur-mayur lainnya,” papar Prof. DR. Haryono Suyono.

Menurut Prof. DR. Haryono Suyono, menjadikan Jakarta sebagai kota yang asri dan memberikan nilai lebih buat kehidupan warganya bukanlah hal yang mustahil. Sebab, walau pada lahan sempit sekalipun menanam tanaman masih bisa dilakukan dengan sistem hortikultura. Di samping bisa membuat kolam ikan bertingkat di mana di Jakarta ini alat-alat tersebut tersedia semua. Jadi, tak ada alasan untuk mengatakan tidak bisa. Tinggal tergantung kemauannya.

“Dengan menjadikan lingkungan Jakarta yang asri dengan memaksimalkan lahan yang ada dengan menggunakan sistem hortikultura, akan menjadikan penduduk Jakarta walau semiskin apa pun memiliki lingkungan yang indah, asri, dan memberi manfaat pada diri dan keluarganya. Hal ini yang sedang kami persiapkan dalam pertemuan kelak dengan Ibu Fauzi Bowo, yang mana kegiatan atau program tersebut akan kita lakukan secara besar-besaran. Dalam Kapasitas Ibu Fauzi Bowo sebagai Ketua Umum BKKKS, atau sebagai Ketua Tim Penggerak PKK maka pembangunan kesos dan taskin yang menjadi tanggung jawab bersama akan lebih dapat terlaksana dengan baik,” papar Prof. DR. Haryono Suyono panjang lebar.

Saat ditanyakan mengenai teknis pelaksanaan ke depan, dengan lugas anakbangsa kelahiran Pacitan 72 tahun silam itu mengemukakan, bahwa masyarakat Jakarta harus didorong untuk membentuk kelompok pemberdayaan. Mendorong masyarakat bisa melalui sekian sebab, semisal dalam kapasitas Ibu Fauzi Bowo sebagai Ketua BKKKS, atau sebagai kapasitas Ketua Umum Penggerak PKK, yang mana dari sini secara struktural ke bawah akan menimbulkan semangat  bergerak. Belum lagi kerjasama yang bisa dilakukan dengan ormas-ormas Betawi yang bernaung di BAMUS Betawi.

“Yang jelas, pencanangan program yang akan dilakukan harus disosialisasikan kepada segenap warga masyarakat. Sebab pembangunan kesos adalah tanggung jawab bersama. Maka kita harus mengembangkan budaya baru yaitu bekerja keras dengan menggunakan pendekatan yang lebih manusiawi menuju masyarakat yang sehat, cerdas, dan sejahtera melalui Pos Pemberdayaan Keluarga atau Posdaya. Posdaya ini merupakan forum bersama yang pembentukannya dapat dilakukan atau diprakarsai oleh individu atau kelompok di lini desa, pengurus RT/RW yang mana ini kemudian menjadi anggota BKKKS melalui Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial  atau K3S,” pungkas sang Professor yang juga mengatakan pentingnya reformasi kebijakan pembangunan sosial berupa penyempurnaan pendekatan charity menjadi pendekatan human right melalui legislasi, jaringan politik, dan inisiasi sosial di lapangan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: