Sentimentil Global

Sentimen itu melahirkan saling hasut, saling sikut, dan saling menjatuhkan demi tegaknya harga diri, hegemoni diri, dan kelompok. Akhirnya, hal itu merebak menjadi sentimentil global yang menjatuhkan kelompok lain dengan perkataan atawa perbuatan tak bertanggung jawab. Kita yang tak masuk dalam kelompoknya dicap sebagai bukan sahabat, bukan saudara, bahkan bukan keluarga mereka.

Om Jin

BELAKANGAN ini masyarakat kita terlalu sensitif terhadap isu-isu lokal maupun global. Bagaimana tidak, rumor yang berkembang tentang si A menjelekkan si B atau sebaliknya –hal biasa dalam ajang perebutan kekuasaan- saat ini sudah sangat santer terdengar hingga memekakkan telinga dan membuat mulut ‘gatal’ untuk ikut berkomentar.

Pesta demokrasi emang udah di ambang pintu. Mau tidak mau, suka tidak suka, setuju tidak setuju, realitas itu harus kita hadapi dengan lapang dada. Apalagi kalo kita perhatikan masing-masing kontestan sudah mulai bergerilya mencari simpati masyarakat untuk bergabung dalam barisannya. Gak peduli dengan cara apa dan bagaimana (legal maupun illegal, ikhlas maupun kagak ikhlas) agar selaku kontestan dalam pesta demokrasi mereka dapat meraup sebanyak-banyaknya simpati masyarakat. Sadar tidak sadar, dalam situasi seperti inilah kerap timbul sikap sentimentil individu maupun kelompok (global). Mengapa begitu?

Itu semua disebabkan lantaran masyarakat pada umumnya banyak yang mengkultuskan atau mengklaim bahwa golongan atau kelompoknyalah yang paling benar ketimbang lainnya. Bahkan dalam satu keluarga yang terikat pada satu keturunan biologis bisa terjadi perpecahan bila berbeda pandangan lantaran berbeda partai politiknya. Apalagi kalau cuman saudara dalam ikatan etnik. Sangat mudah terjadi pertentangan yang menjurus pada perpecahan setiap akan berlangsungnya pesta demokrasi. Meski itu semua hanya disebabkan oleh masalah sepele, cuman berbeda warna ‘bendera’ saja. Sayangnya, realitas ini kerap menimbulkan konflik berkepanjangan. Di mana konflik itu terus berlanjut padahal pesta demokrasinya udah lama usai.

Sungguh amat disayangkan memang jika kerenggangan dan perpecahan itu hanya dipicu oleh masalah yang bersifat sementara. Dan di dunia yang fana ini, kita sadari benar, tidak ada sesuatu yang abadi. Bukan begitu, cing?

Negeri ini emang belum lama belajar berdemokrasi ‘bebas’ buah dari reformasi. Namun sayangnya, kran demokrasi yang mulai dibuka bebas sebebas-bebasnya itu ternyata malah membuat sesama anak bangsa kerap saling bertikai. Mungkinkah hal ini terjadi lantaran kita kurang punya rasa tanggung jawab pada kebebasan yang ada? Tentu saja kemungkinan ini masih perlu kita kaji lebih dalam lagi agar tak salah dalam mengambil kesimpulan.

Di era reformasi ini kebebasan kita selaku anak bangsa dalam berdemokrasi lebih dihargai. Kita sudah terbebas dari segala bentuk intervensi, pencekalan, pemberangusan, maupun tekanan dalam menyalurkan aspirasi. Tetapi belakangan ini banyak sekali yang terlihat, terdengar, maupun terasa bahwa penyakit mental yang namanya ‘sentimentil’ mulai mengepidemi di sebagian besar masyarakat kita. Ada sentimentil individu dan ada pula sentimentil global.

Contoh konkret sentimentil individu adalah merebaknya kedengkian antar individu di hampir semua pelosok negeri. Sentimen itu melahirkan saling hasut, saling sikut, dan saling menjatuhkan demi tegaknya harga diri, hegemoni diri, dan kelompok. Akhirnya, hal itu merebak menjadi sentimentil global yang tak bertanggung jawab, yang menjatuhkan kelompok lain dengan perkataan atawa perbuatan tak bertanggung jawab. Kita yang tak masuk dalam kelompoknya dicap sebagai bukan sahabat, bukan saudara, bahkan bukan keluarga mereka.

Secara tidak langsung mereka yang terjebak dalam realitas sosial seperti itu telah merusak jalinan hubungan silaturrahmi. Padahal Allah SWT. sangat menekankan pada masalah penguatan tali silaturrahmi. Tapi lantaran dihinggapi penyakit sentimen –baik secara individu maupun global- dengan enteng mereka merusaknya. Tak ada beban dalam merusak tali silaturrahmi meski itu bertentangan dengan perintah Sang Khalik.

Cara-cara demikian jelas merupakan sebuah kepicikan dari pola pikir. Pola pikir seperti itu biasanya ada pada individu yang belum memiliki SDM yang kuat alias memadai. Sehingga yang muncul dari aktivitasnya selalu ingin bermuara pada keuntungan pribadi lantaran didorong oleh ketamakan diri. Tak peduli meski harus menghasut, mengadu domba, bahkan memaki orang lain. Dalam benaknya yang ada cuman… yang penting untung!

Kita yang masih berpikiran waras tentu berharap, bagaimana jika ada ‘saudara’ kita yang pintar dan punya keahlian mereka mau dan siap sedia dengan penuh keikhlasan mentransformasikan kepintaran dan keahliannya kepada ‘saudara-saudaranya’ kita yang lain. Tujuannya, agar ‘saudara-saudaranya’ kita yang lain juga bisa maju sehingga mampu berkontribusi bagi kemajuan bersama yang bermuara pada kemajuan bangsa dan negara.

Lantaran sebab itulah mengapa agama sangat menekankan kita untuk mempererat dan selalu menyambung tali silaturrahmi. Karena dengan ikatan tali silaturrahmi yang kokoh kita bisa saling mengisi dalam kekurangan dan kelemahan kita sebagai manusia. Tanpa silaturrahmi yang kuat, eksistensi bangsa akan hancur.

Alhasil, marilah selalu kita jaga hubungan tali silaturrahmi di antara kita demi kemajuan kaum kita, agama kita, dan tentunya bangsa kita. Insya Allah, dengan begitu Allah SWT. akan mengakui kita sebagai hamba-Nya dan Rasulullah SAW. pun akan menganggap kita sebagai umatnya.

Buang sentimentil individu maupun global. Rengkuh silaturrahmi, jangan diputuskan!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: