H. Achmadi Umar, Seniman Samrah

H. Achmadi Umar

Musik samrah lahir pada tahun 1918 atau 1920. Di awal kemunculannya alat musik samrah pun masih sangat sederhana sekali. Hanya menggunakan gendang dan markis. Musik samrah kala itu dimainkan oleh sekelompok pemuda yang berada di kampung Tanah Abang, sebuah kampung yang terletak di kawasan pinggiran kota Betawi. Lama-kelamaan musik samrah kok enak di dengernya. Berawal dari kampung Tanah Abang itu musik samrah sering dimainkan di kala setiap menjelang ada pertemuan. Disamping untuk meramaikan suasana, digelarnya pertunjukan musik samrah itu juga ditujukan untuk lebih mengenalkan musik samrah kepada masyarakat luas. Demikian ungkap salah seorang musisi musik samrah H. Achmadi Umar, kelahiran Jakarta, 4 Desember 1949 silam.
Seiring dengan perjalanan waktu, tambah H. Achmadi yang juga pendiri Radio Citra Kemang (RCK) AM 13.14, perkembangan musik samrah terus berkolaborasi dengan perkembangan zaman kala itu.

Ketika musik samrah dimainkan oleh keturunan Arab dengan ditambahi alat musik gambus, maka alunan musik samrah semakin enak didengar. “Kemudian datang orang India yang membawa alat musik hormonium yang menjadikan musik samrah ini menjadi semakin asyik didengarnya,“ terang H. Achmadi yang menikah pertama kalinya pada tahun 1970 dengan Hj. Fatmawati dan dikaruniai lima orang anak. Setelah Hj. Farmawati wafat, H. Achmadi menikah kembali dengan Hj. Manisa yang mantan teman sekolahnya.
Menurut H. Achmadi yang mantan kontraktor, pada pertengahan tahun 1940-an musik samrah sedang jaya-jayanya. Sayang di awal tahun 1950-an musik samrah ini mulai pecah dari mulai orang Arab yang membawa alat musik gambus mendirikan orkes gambus, orang Melayu dengan akordeonnya mendirikan orkes Melayu maupun orkes keroncong. Realitas itu menyebabkan pada akhir tahun 1950-an musik samrah boleh dikatakan benar-benar tenggelam.
“Pada saat itu kondisi musik samrah dapat kita ibaratkan seperti orang yang tenggelam di mana yang kelihatan hanya tinggal kepalanya saja. Maka tak aneh kalau pada sekarang ini banyak orang Betawi, apalagi di kalangan generasi mudanya, hanya sebagian saja yang tahu apa itu musik samrah. Padahal, musik samrah adalah salah satu kesenian Betawi. Dan sebagai orang Betawi kita memiliki tanggung jawab moral untuk melestarikan musik samrah ini supaya tidak hilang atau musnah tergerus jaman,“ harap suami dari Hj. Manisa ini dengan senyum ramah.
Karena panggilan hati yang tak ingin musik samrah sampai hilang atau musnah tergerus jaman, maka sejak dua tahun silam H. Achmadi Umar mulai serius untuk menggeluti atau menghidupkan kembali musik samrah dengan mendirikan sanggar yang bernama Sanggar Cipta Kenangan dan mengaransemen ulang lagu-lagu samrah yang sudah ada sebelumnya. “Untuk lebih dapat diterima masyarakat sekarang ini maka saya sengaja mengkolaborasikan musik samrah dengan lagu-lagu melayu atau dangdut di studio saya yang cukup sederhana ini. Tujuannya tak lain dan tak bukan agar masyarakat luas, khususnya masyarakat Betawi, dari berbagai tingkatan usia bisa menikmati lagu-lagu samrah atau dapat mengenal dan memahami yang namanya aliran musik samrah,“ kata ayah dari lima orang anak serta dua cucu ini.
Untuk menyebarluaskan musik samrah ini, tambah H. Achmadi, dirinya juga mendirikan sebuah stasiun radio lokal yang diberi nama Radio Citra Kemang (RCK) AM 13.14 pada dua tahun silam. Alhamdullilah, hingga saat ini banyak juga fans-fans Radio Citra Kemang yang menyukai aliran musik samrah, serta segmen-segmen acara lainnya yang disiarkan dari Radio Citra Kemang pada setiap harinya. Di samping ada acara kumpul bareng yang rutin digelar pada setiap hari Rabu.
“Saya yakin sekali bahwa musik samrah ini tidak kalah enaknya dengan musik-musik modern jaman sekarang. Apalagi saat ini saya mengemas musik samrah ini dengan menyesuaikan selera penikmat musik di Jakarta pada khususnya agar generasi kita yang akan datang tahu apa itu musik samrah. Karena kalau bukan kita selaku orang Betawi yang melestarikan kebudayaan Betawi ini lalu siapa lagi? Apalagi kan sekarang Gubernur Jakarta dipegang oleh orang Betawi,“ pungkas H. Achmadi mengakhiri bincang-bincangnya.
Syam/Jaloe

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: