Harap Maklum dan Indahkan, Inti Sinergitas sebuah Gerakan

Bicara soal organisasi, maju tidaknya sebuah organisasi, setidaknya dapat kita lihat dari 5 (lima) faktor sebagai tolak ukur awal. Pertama, leadership sang Ketua. Kedua, kemampuan menejerial atau motor penggerak organisasi yang menjadi tanggung jawab Sekretaris. Ketiga, transparansi dana yang dipegang Bendahara. Keempat, dukungan penuh dari anggota yang ada. Dan kelima, kunci keberhasilannya tentu saja terletak pada sinerjitas (kekompokan) dari elemen yang ada. Mulai dari Ketua, Sekretaris, Bendahara, Ketua Departemen/Seksi, anggota dan simpatisan yang masing-masing paham dengan tugas yang diemban sehingga mampu berpikir secara proposional dan bekerja secara profesional sesuai dengan jabatan yang disandangnya.

ORANG Betawi (ape tokoh Betawi?) lagi doyan-doyannya berorganisasi. Kurang percaya? Tengok aja daftar Ormas Betawi yang bernaung di BAMUS Betawi. Lebih dari 100 Ormas Betawi, cing! Itu belum ditambah ama Ormas Betawi yang kagak daftar ke BAMUS Betawi. Kalo kita jumlain, Ormas Betawi yang ada di Tanah Betawi yang kini bernama Jakarta jumlahnya emang bejibun. Buanyak banget! Cuman sayangnya, dari bejibunnya Ormas Betawi yang ada, yang aktif bergerak dan kelihatan dinamikanya gak lebih dari jumlah jari tangan kita yang sebelah kanan, atau sebelah kiri.

Tragis? Itu realitanya. Makanya, gak berlebihan kalau ada seorang tokoh muda Betawi yang berpendapat; orang Betawi emang pandai membuat organisasi, tetapi tidak pandai menata dan membuat jaringan. Buktinya, cuma ada sedikit Ormas Betawi yang aktif bergerak dan kelihatan dinamikanya itu pun berjalan pada rel masing-masing. Tanpa ada sinergitas dan jaringan yang kuat. Yang ada pan malah ribut melulu lantaran berebut lahan parkir! Eit, kepala boleh aja panas, tetapi hati kudu tetap dingin.

Dari realitas di atas timbul pertanyaan; bagaimana agar Ormas Betawi yang ada –baik berpayung atau tidak di BAMUS Betawi—dapat bergerak optimal dalam merealisasikan visi misinya yang berarti juga berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara? Langkah awal yang patut kita lakukan, apapun jabatan dan posisi kita dalam ormas yang kita geluti, adalah mengkaji ulang dengan penuh kejujuran apa motivasi awal kita sehingga kita mau aktif bergelut dalam ormas tersebut. Benar-benar aktif karena ingin menjadi bagian dari gerakan besar dan mulia untuk mengangkat harkat dan martabat kaum Betawi, atau cuma menjadikan ormas tersebut sebagai kendaraan untuk memenuhi kepentingan pribadi atau menggapai cita-cita pribadi?

Idealnya, kita termotivasi karena ingin menjadi bagian dari gerakan besar dan mulia untuk mengangkat harkat dan martabat kaum Betawi. Karena bila ini motivasi yang menjadi landasan kita dalam berbuat atau berkarya, akan berbuah pula pada pemenuhan kepentingan pribadi atau penggapaian cita-cita pribadi. Namun sebaliknya, jika motivasi awalnya cuma menjadikan ormas tersebut sebagai kendaraan untuk memenuhi kepentingan pribadi atau menggapai cita-cita pribadi maka kita tidak akan pernah bisa menjadi bagian dari gerakan besar dan mulai yang menjadi visi misi ormas yang kita geluti. Dalam idiom lain; kalau kita menanam padi maka rumput akan ikut tumbuh, tetapi kalau kita menanam rumput maka padi tak akan ikut tumbuh.

Nah, kalau motivasi kita yang selama ini mungkin saja bengkok dan sekarang sudah ada upaya dari kita untuk meluruskannya. Modal selanjutnya yang kita butuhkan adalah positif thingking dalam membina pergaulan dengan sesama aktivis ormas.Karena dalam pergaulan tersebut kita dituntut tidak untuk sekedar berwacana melainkan juga harus diimbangi dengan berkarya. Tentu saja hal itu dimaksudkan atau ditujukan agar eksistensi kita mampu memberikan kontribusi positif yang konkret dalam mengembangkan atau memajukan ormas yang di mana kita aktif didalamnya.

Khusus berbicara soal organisasi, maju tidaknya organisasi dapat kita lihat dari leadership sang Ketua, menejerial atau motor penggerak organisasi yang menjadi tanggung jawab Sekretaris, transparansi dana yang dipegang Bendahara, serta dukungan penuh dari anggota yang ada. Dan kunci keberhasilannya tentu saja terletak pada sinerjitas (kekompokan) dari elemen yang ada. Mulai dari Ketua, Sekretaris, Bendahara, Ketua Departemen/Seksi, dan anggota yang masing-masing paham dengan tugas yang diemban sehingga mampu berpikir secara proposional dan bekerja secara profesional sesuai dengan jabatan yang disandangnya.

Inti dari sinerjitas sebuah gerakan organisasi adalah mampu memaknai dari apa yang kita sebut dengan istilah ‘harap maklum’. Karena bila sudah mampu mengimplementasikan ‘harap maklum’ dalam kinerja organisasi, insya Allah, secara otomatis akan menumbuhkan rasa saling menghormati dan menghargai. Dengan mengimplementasikan ‘harap maklum’, berarti kita telah mengembalikan setiap persoalan yang muncul pada nurani dan akan menghormati pendapat yang ada meski berbeda dengan pendapat kita.

Jalankan apa yang dianggap baik sesuai dengan kesepakatan yang sudah disepakati dan tinggalkan yang kurang baik dengan tanpa menumbuhkan rasa ketersinggungan bagi pihak lain. Dengan begitu, berarti kita telah memaknai pula konsep ‘indahkan’. Konsep yang apabila diterapkan secara kontinyu berdasarkan akal-pikiran-nurani sekaligus naluri dapat membuang jauh-jauh ego pribadi yang menyelimuti kepentingan diri sendiri yang pada akhirnya mendorong kita berjuang untuk meraih kesuksesan bersama-sama.

Sebagai anggota maupun fungsionaris Ormas Betawi, mari bersama-sama dengan konsep ‘harap maklum’ dan ‘indahkan’ kita buktikan pengabdian kita lewat kerja keras dan kerja cerdas untuk kemajuan kaum Betawi pada khususnya dan kemajuan warga Jakarta pada umumnya. Kaum Betawi sebagai penduduk inti Kota Jakarta yang masih bertahan di tanah kelahirannya harus mampu menjadi tauladan yang baik di segala lini kehidupan bagi para ‘tamu’ yang tumplek-bleg memadati Jakarta, bahkan telah mampu ‘memindahkan’ kaum Betawi kepinggiran kota lewat kekuatan ekonominya.

Memang, jalan masih cukup panjang. Masih banyak tugas atau pekerjaan yang harus kita benahi di dalam wadah organisasi kita sendiri. Mulai pembenahan dari segi struktur maupun nonstruktur. Disitulah peranan kita amat dibutuhkan demi kemajuan bersama dengan menyadari dan memahami kemampuan kita masing-masing. Jangan ada istilah memaksakan kehendak. Jangan ada istilah mengganggu tugas seseorang untuk kepentingan sendiri maupun golongan. Dan agar tidak terjadi benturan dalam tugas, hormati dan hargai wacana yang berkembang agar berjalan tidak keluar dari rel yang sudah disepakati dan tertuang dalam AD/ART.

Mari, kita tunjukkan jiwa besar kita demi kemajuan bersama. Jangan kerdil, sehingga tanpa sadar kerap melakukan tindakan bodoh hanya demi memenuhi syahwat diri dengan menjalankan apa yang dibisiki setan. Jangan ghibah. Dan jangan lari dari kenyataan yang kita hadapi. Nikmati dan jalani apa yang tengah menimpa diri kita. Supaya kita tidak dicap sebagai manusia pengecut, mempengaruhi orang untuk menjatuhkan lawan.

Ingat, di dalam organisasi tidak ada istilah lawan, yang ada adalah teman yang beda pendapat atau pandangan dalam memperjuangkan visi misi organisasi. Jadi, yang dibutuhkan adalah kebersamaan, pengertian, dan kesadaran yang tinggi untuk mencapai cita-cita yang luhur.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: