Iman Kelas VIP, Bisnis, Ekonomi, dan Kambing

Bukan hanya sekolah yang memiliki kelas. Bukan juga cuma kereta api atau pesawat terbang. Juga bukan cuma masyarakat sosial yang punya strata, tetapi keimanan seseorang kepada Tuhan pun memiliki klasifikasi tersendiri. Dan ini pernah diutarakan oleh Nabi SAW serta para sahabat dan tabiin.
Mungkin sebagian kita telah paham akan hadits klasifikasi iman, namun di sini kita akan menyoroti tingkatan atau kelas keimanan melalui kacamata yg berbeda tapi tidak keluar dari substansi.
Ada empat kelas tingkat keimanan (menurut saya, loh), yaitu kelas VIP, kelas Bisnis, kelas Ekonomi, dan kelas Kambing. Keimanan kelas VIP ini hanya dimiliki oleh mereka yang benar-benar yakin 100% kepada ketetapan Tuhan. Mereka ini adalah orang-orang yang ikhlas dalam menjalankan perintah Tuhan tanpa sedikit pun ada rasa pamrih. Keimanan kelas VIP ini telah menanamkan sikap zuhud terhadap dunia. Zuhud dalam arti sebenarnya, bukan zuhud yang mengasingkan diri atau eskapis dari kondisi sosial.
Jika dalam keadaan berharta dan ada panggilan Tuhan untuk berjihad dengan harta, iman VIP ini akan langsung memberikan seluruh hartanya untuk kepentingan agama Alloh dengan menyisakan secukupnya untuk keluarga. Mereka bukan tidak memikirkan masa depan, namun masa depan buat mereka adalah kehidupan akhirat, bukan dunia. Sedang masa depan keluarganya diserahkan seluruhnya kepada Tuhan.
Begitulah iman kelas VIP. Mereka beramal tanpa perhitungan kepada Tuhan. Yang mereka kejar hanya satu: keridhoan Tuhan. Bukan atas kalkulasi pahala atau balasan syurga.


Yang kedua adalah tingkat iman kelas bisnis. Keimanan kelas bisnis bukan mereka tidak yakin pada qada Tuhan, mereka sebenarnya yakin, namun masih ada setitik kekhawatiran yang bisa ditolerir dalam bingkai manusiawi. Misalnya, jika dalam kondisi berharta dan ada panggilan beramal di jalan Tuhan, seperti pembangunan sarana ibadah, mereka tidak langsung memberikan bantuan. Biasanya mereka agak kritis kalau menyangkut keuangan dengan menanyakan kevalidan informasi dan legalitas kepanitiaannya. Setelah mereka betul-betul yakin akan kebenaran informasi tersebut, barulah mereka bersedekah. Tetapi sedekah yang diberikan tidak sebanyak iman kelas VIP. Biasanya mereka memberikan alakadar saja, sekedar partisipasi lah.
Hal tersebut dikarenakan mereka masih lebih memikirkan masa depan keluarganya hidup di dunia ketimbang di akhirat. Buat mereka pahala di akhirat bisa dicari lewat ibadah ritual saja, bukan pada ibadah sosial.
Iman kelas bisnis ini kadang-kadang terlalu perhitungan dalam beramal. Mereka masih mengharap pamrih pahala dan balasan dari Tuhan. Jika mereka sedekah pun mengharapkan dibalas 700 kali lipat dari apa yang mereka keluarkan. Yah, sedekahnya mirip-mirip sedekah yang sering didakwahkan oleh salah seorang Ustad yang satu itu loh.. mengharap imbalan lebih dari Tuhan. Begitulah iman kelas bisnis, selalu pake kalkulasi dalam beramal.
Ada lagi tingkat berikutnya iman kelas ekonomi. Iman kelas ini biasanya dimiliki oleh mereka yang miskin dan sebagian aktivis HAM. Dalam pandangan iman kelas ekonomi, menjadi pengemis, pelacur, TKW, itu tidak mengapa. Alasannya sangat klise, faktor ekonomi.
Dalam pandangan Islam menjadi pelacur jelas haram hukumnya. Begitu juga perempuan yang keluar rumah tanpa didampingi muhrimnya, dilarang dalam iman Islam. Menjadi pengemis tanpa mau berusaha memperbaiki hidup pun mendapat koreksi dari Islam. Tapi hal tersebut menjadi manusiawi dan patut dibela haknya oleh para aktivis HAM. Alasannya ya itu tadi, faktor ekonomi. Mereka seolah ingin berkata, bahwa jadi pelacur, jadi TKW, dan menjadi pengemis adalah hak manusia, dan agama pantang untuk melarang. Inilah wajah keimanan kelas ekonomi, dimana mengukur segala amal dari segi ekonomi semata.
Dan, karena alasan pendapatan ekonomi pula pemerintah tidak melarang, malah membudayakan praktik-praktik kemusyrikan warisan nenek moyang seperti Pesta Laut atau Sesembahan buat Gunung. Katanya budaya seperti ini bisa menjadi devisa negara dari sektor pariwisata… hahaha…
Yang terakhir adalah iman kelas Kambing. Anda tentu kenal kambing? Betul, hewan yang biasa diternak. Kambing ternak ini akan selalu ikut apa kata majikan karena mengharap apa yang dijanjikan. Walau kadang janji majikan tidak selalu benar tapi yang namanya kambing tetap saja setia. Iman seperti ini biasanya banyak menjangkiti mereka yang doyan bertaklid, hilang sikap kritis, dan tak mau repot bertanya dan mencari kebenaran. Bagi mereka apa yang dikatakan gurunya itulah kebenaran.
Saya pernah bertanya kepada jamaah yang melakukan ziarah ke kubur kramat tentang siapa sebenarnya orang yang dikubur dan selalu mereka ziarahi itu? Mereka cuma menjawab, “Tidak tahu, mas. Kami cuma ikut apa kata guru kami saja.” Begitulah potret keimanan kelas kambing cuma jadi pengikut taklid buta tanpa mau berpikir dan mencari.
Nah, alhasil, sampai juga tulisan ini pada batas akhirnya. Dengan keterangan yang seadanya di atas, kira-kira iman kita berada pada kelas yang mana? Kelas VIP, Bisnis, Ekonomi, atau Kelas Kambing? Jangan bilang terserah Alloh, tapi tentukan sikap…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: