Pembinaan Kesenian Tradisional: Revitalisasi Budaya

Pemerintah DKI Jakarta sudah tentu sangat berkepentingan dengan keberadaan kesenian tradisional Betawi. Dalam hal ini, melalui berbagai cara telah ditempuh usaha-usaha mempertahankan dan memelihara kesenian itu. SM Ardan, misalnya, telah mempelopori masuknya kesenian Lenong untuk berpentas secara rutin di Taman Ismail Marzuki pada tahun 1970-an, anjungan DKI Jakarta di Taman Mini Indonesia Indah memfasilitasi pertunjukan kesenian tradisional Betawi sejak didirikan hingga kini, Kampung Betawi di kawasan Srengseng Sawah dijadikan semacam laboratorium budaya Betawi.

Di kalangan non-pemerintah kita mengenal Lembaga Kebudayaan Betawi yang secara substansial bertugas melakukan kajian-kajian dan apresiasi terhadap berbagai khazanah budaya Betawi. Kini, penerbit Komunitas Bambu secara terencana menerbitkan buku-buku tentang berbagai aspek kehidupan masyarakat Betawi dan Jakarta berdasarkan riset para peneliti yang mempunyai perhatian terhadap Betawi. Semua pihak itu telah menunjukkan perhatian dan apesiasinya terhadap masyarakat dan budaya Betawi. Akan tetapi, di sisi lain kehidupan para seniman tradisional Betawi masih kurang diperhatikan dengan baik dan tidak adanya upaya pemaksimalan kreativitasnya secara terprogram dan terpadu.

Pembinaan terhadap kehidupan berkesenian dapat berbanding lurus dengan pembinaan terhadap kehidupan ekonomi keluarga. Di sinilah persoalan utama muncul. Kesenian tidak dijadikan sebagai mata pencarian. Berkesenian adalah sebuah pilihan temporal dalam kehidupan sehari-hari para seniman itu. Dengan demikian, komunitas seni tradisional Betawi lambat laun terjerembab ke jurang yang dalam oleh dominasi kelompok-kelompok kesenian populer yang lebih progresif.

Oleh karena itu, satu hal yang perlu dilakukan adalah membangun kantong-kantong budaya yang dapat mengaktifkan kembali kehidupan berkesenian secara khusus dan kebudayaan Betawi secara umum. Diperlukan wadah yang secara kontinyu mampu memberi pemahaman kepada semua pihak (pemerintah, masyarakat Betawi, seniman Betawi, para maecenas) pentingnya membangun kembali budaya Betawi yang saat ini semakin tercerai berai secara geografis maupun substantif.

Konsep Kampung Budaya Betawi di Srengseng Sawah adalah contoh yang tepat dan perlu dikembangkan di berbagai lokasi permukiman masyarakat Betawi di seantero Jakarta. Dalam hal ini, pemberdayaan masyarakat Betawilah yang menjadi prioritas, karena kesenian justru akan hidup di tengah-tengah lingkungan budaya itu sendiri. Kreativitas dalam berkesenian dengan sendirinya akan terbangun dan bersinergi dengan situasi zaman. Pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat sekadar fasilitator dalam program revitalisasi budaya Betawi.

Pekerjaan yang besar ada di depan kita, yaitu merevitalisasi budaya Betawi melalui pemberdayaan masyarakat Betawi sebagai pelaku budaya. Pembelajaran terhadap situasi zaman oleh masyarakat Betawi perlu dijadikan sebagai sebuah kesadaran untuk menguatkan identitas budaya mereka di tengah-tengah budaya metropolitan. Ruang-ruang publik yang metropolis berpotensi mencairkan identitas budaya mereka. Ruang-ruang publik itu tidak harus dipandang negatif, tetapi sebaliknya harus dipandang sebagai stimulus untuk membangun strategi budaya mereka sendiri di tengah dunia yang semakin mengglobal yang ditunjang kecanggihan perangkat teknologi informasi.

Sudah saatnya sekarang ini masyarakat dan para intlektual Betawi untuk bersama-sama dengan pemerintah, LSM, dan universitas membangun kemungkinan-kemungkinan baru dan kreatif merevitalisasi budaya Betawi. Hasil revitalisasi itu—dalam bentuk produk kesenian—dapat dikemas sebagai produk budaya yang mampu mengisi rumpang-rumpang kreativitas kesenian tradisional di era global ini. Dalam bentuk identitas budaya, masyarakat Betawi memiliki posisi tawar dalam dinamika masyarakat perkotaan yang modern, terutama dalam hal pariwisata.

Konsep kampung budaya Betawi dengan segala aspek budayanya dalam sebuah paket budaya dapat dijadikan daerah tujuan wisata untuk turis domestik maupun internasional. Dalam hal ini, tanggung jawab pemerintah daerah untuk menyediakan akses sarana dan prasaran transportasi (jalan dan kendaraan umum), kewajiban pengelola kampung budaya adalah menyediakan program budaya dalam bentuk pameran, pertunjukan, informasi tentang budaya, dan kegiatan-kegiatan rutin, seperti kursus seni (menari, teater, musik) yang dapat dijadikan wahana pembelajaran dan penerusan warisan budaya dari satu generasi ke berikutnya. Hanya dengan upaya itu, seniman-seniman tradisional Betawi dalam bidang seni pertunjukan teater (lenong, topeng betawi, topeng blantek), musik (tanjidor, gambang kromong, rebana biang), tari (cokek), sastra (pantun, sahibul hikayat),    seni rupa (seni ukir betawi) mendapat tempat untuk mengembangkan diri dan kreativitas berkeseniannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: