Ormas Betawi dan Wajah Betawi Milenium

Dalam buku Babad Tanah Betawi, Ridwan Saidi sang penulis buku tersebut, “mengklaim” bahwa nenek moyang orang Betawi adalah Aki Tirem atau  Sang Aki Luhur Mulya, seorang penghulu kampung yang  tinggal di pinggiran Kali Tirem, Warakas, Tanjung Priuk.

Aki Tirem sebagaimana yang tercatat dalam Naskah Pangeran Wangsakerta dalam Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara, Parwa 1, Sarga 1, adalah putera Ki Srengga, Ki Srengga Putera Nyai Sariti Warawiri, Nyai Sariti Warawiri puteri Sang Aki Bajulpakel, Aki Bajulpakel putera Aki Dungkul dari Swarnabhumi bagian selatan kemudian berdiam di Jawa Barat sebelah Barat, Aki Dungkul putera Ki Pawang Sawer, Ki Pawang Sawer Putera Datuk Pawang Marga, Datuk Pawang Marga putera Ki Bagang yang berdiam
di swarnabhumi sebelah utara, Ki Bagang putera Datuk Waling yang berdiam di Pulau Hujung Mendini, Datuk Waling putera Datuk Banda, ia berdiam di dukuh tepi sungai, Datuk Banda putera Nesan, yang berasal dari Langkasungka. Sedangkan Nenek moyangnya berasal dari negeri Yawana sebelah barat.

Setelah menikahkan anaknya Pohaci Larasati dengan sorang pangeran pelarian dari India yang berilmu tinggi, Dewawarman, maka keturunan Aki tirem inilah yang oleh Ridwan Saidi disebut sebagai manusia proto betawi. dan terus berkembang sampai sekarang sebagai etnis yang mendiami wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

H. Achmadi Umar, Seniman Samrah

H. Achmadi Umar

Musik samrah lahir pada tahun 1918 atau 1920. Di awal kemunculannya alat musik samrah pun masih sangat sederhana sekali. Hanya menggunakan gendang dan markis. Musik samrah kala itu dimainkan oleh sekelompok pemuda yang berada di kampung Tanah Abang, sebuah kampung yang terletak di kawasan pinggiran kota Betawi. Lama-kelamaan musik samrah kok enak di dengernya. Berawal dari kampung Tanah Abang itu musik samrah sering dimainkan di kala setiap menjelang ada pertemuan. Disamping untuk meramaikan suasana, digelarnya pertunjukan musik samrah itu juga ditujukan untuk lebih mengenalkan musik samrah kepada masyarakat luas. Demikian ungkap salah seorang musisi musik samrah H. Achmadi Umar, kelahiran Jakarta, 4 Desember 1949 silam.
Seiring dengan perjalanan waktu, tambah H. Achmadi yang juga pendiri Radio Citra Kemang (RCK) AM 13.14, perkembangan musik samrah terus berkolaborasi dengan perkembangan zaman kala itu.

Baca pos ini lebih lanjut

Kaum Betawi Harus militan

Agus Yahya

Ada yang berpendapat menghimpun orang Betawi memang tidak mudah, menyatukannya juga sangat sulit. Dan hal tersulit adalah menyatukan dan menyamakan persepsi. Namun, pendapat itu ditepis oleh Tokoh Betawi asal Setia Budi, yang juga Ketua Dewan Kelurahan (Dekel) Setia Budi Agus Yahya. Menurutnya mempersatukan kaum Betawi untuk menjadi militan tidalah sulit. Yang penting cara atau kiatnya tepat. Tidak asal menghimpun dan menyatukannya. Untuk  mempersatukan kaum Betawi cara yang ditempuh harus dimulai dari perekrutan, pembinaan, pendidikan mental, serta pengetahuan tentang sejarah Betawi yang harus diberikan sejak dini. Semua itu harus diberikan dari tingkat Rt, RW, Kelurahan, dan seterusnya.

Baca pos ini lebih lanjut

Lakukan Konservasi Budaya Betawi

Dalam kesempatan yang khusus, secara eksklusif. Prof. DR. Haryono Suyono menerima kehadiran Jamiel Loellail Rora dan Denjaka dari Batavia News di kantor Yayasan Damandiri, Gedung Granadi, Kuningan, Jakarta Selatan. Sosok yang luwes, cepat tanggap, dan ramah serta sangat santun langsung dikesankan oleh sang Profesor pada pertemuan pertama. Jelas tergambarkan bahwa kecintaan dan pengabdian sang Profesor kepada segenap rakyat Indonesia agar dapat hidup sejahtera nampaknya tidak terhenti sampai pada jabatan beliau sebagai Menko Kesra Taskin di masa Kepemimpinan (Alm.) Presiden Soeharto.

Haryono Suyono

Masalah seputar kesejahteraan rakyat dan pengentasan kemiskinan masih setia menjadi hal yang concern digeluti Mantan Menko Kesra Taskin Prof. DR. Haryono Suyono yang kini masih aktif berkiprah sebagai Ketua Yayasan Dana Sejahtera Mandiri, Ketua Dewan Pembina YAPPINDO,

dan Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia Untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS). Hal ini dapat terbukti dengan gerakan dan aktivitas sosial sang Profesor yang mantan wartawan ini di segenap daerah dalam wilayah kedaulatan NKRI melalui Yayasan Damandiri dan Organisasi DNIKS. Agar masyarakat Betawi dan Jakarta bisa lebih mengetahui dan memahami aktivitas sang Profesor, khususnya di tanah Betawi, maka sang Profesor yang beristrikan wanita asli Betawi asal Kampung Melayu ini mau berbagi cerita melalui Batavia News, majalah Betawi atu-atunya.

Baca pos ini lebih lanjut

Turnamen Sepak Bola Forkabi Cup I DPC Forkabi Palmerah

Minggu (23/5) bertempat di lapangan Wijaya Kusuma (Romsol), Kemanggisan, Jakarta Barat, Turnamen Sepak Bola Forkabi Cup I yang diadakan oleh DPC Forkabi Kec. Palmerah dalam rangka menyambut HUT DKI Jakarta ke-483 resmi dibuka. Wakil Walikota Jakarta Barat Drs. H. Suparno, MM membuka secara resmi turnamen tersebut didampingi Sekjen DPP Forkabi H. Latief HM, Direktur LBH Forkabi H. Zamakh Sari, SH, MH, Dewan Penasehat DPP Forkabi H. Toton Bachtiar, Camat Palmerah Hatoya, S.Sos, Ketua DPD II Partai Golkar Jakarta Barat Hj. Siti Jaojah, Kapolsek, Koramil serta ormas kepemudaan Pemuda Pancasila Jakarta Barat beserta jajarannya.

Baca pos ini lebih lanjut

Sentimentil Global

Sentimen itu melahirkan saling hasut, saling sikut, dan saling menjatuhkan demi tegaknya harga diri, hegemoni diri, dan kelompok. Akhirnya, hal itu merebak menjadi sentimentil global yang menjatuhkan kelompok lain dengan perkataan atawa perbuatan tak bertanggung jawab. Kita yang tak masuk dalam kelompoknya dicap sebagai bukan sahabat, bukan saudara, bahkan bukan keluarga mereka.

Om Jin

BELAKANGAN ini masyarakat kita terlalu sensitif terhadap isu-isu lokal maupun global. Bagaimana tidak, rumor yang berkembang tentang si A menjelekkan si B atau sebaliknya –hal biasa dalam ajang perebutan kekuasaan- saat ini sudah sangat santer terdengar hingga memekakkan telinga dan membuat mulut ‘gatal’ untuk ikut berkomentar.

Baca pos ini lebih lanjut

Lima Langkah dalam Memajukan Forkabi

Tegas bersikap serta mempunyai komitmen dan idealis tinggi dalam setiap aktifitas yang dijalani membuat Muhammad Hanapi, yang akrab disapa Mat Uca, disegani banyak orang khususnya para tokoh Betawi maupun etnis lain yang ada di wilayah Jakarta Barat. Rasa sosialnya yang tinggi dalam rangka menjalankan niatnya untuk bisa mengangkat harkat martabat kaum Betawi di tanah kelahirannya membawanya aktif dalam wadah organisasi etnis yang bernama Forum Komunikasi Anak Betawi (Forkabi).

Mat Uca dan Istri

Ketertarikannya pada Forkabi, tambah Mat Uca, dikarenakan Forkabi adalah ormas etnis yang independent. Artinya, Ormas etnis yang tidak berapiliasi pada satu partai politik mana pun dan hanya punya satu niat merealisasikan visi misi untuk mengangkat harkat martabat kaum Betawi. “Di samping itu Forkabi sebagai ormas juga mempunyai kepedulian terhadap lingkungan dan anti dengan yang namanya anarkis,” papar Mat Uca yang dipercaya menjabat sebagai Ketua DPC Forkabi Kecamatan Palmerah.

Baca pos ini lebih lanjut