Ormas Betawi dan Wajah Betawi Milenium

Dalam buku Babad Tanah Betawi, Ridwan Saidi sang penulis buku tersebut, “mengklaim” bahwa nenek moyang orang Betawi adalah Aki Tirem atau  Sang Aki Luhur Mulya, seorang penghulu kampung yang  tinggal di pinggiran Kali Tirem, Warakas, Tanjung Priuk.

Aki Tirem sebagaimana yang tercatat dalam Naskah Pangeran Wangsakerta dalam Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara, Parwa 1, Sarga 1, adalah putera Ki Srengga, Ki Srengga Putera Nyai Sariti Warawiri, Nyai Sariti Warawiri puteri Sang Aki Bajulpakel, Aki Bajulpakel putera Aki Dungkul dari Swarnabhumi bagian selatan kemudian berdiam di Jawa Barat sebelah Barat, Aki Dungkul putera Ki Pawang Sawer, Ki Pawang Sawer Putera Datuk Pawang Marga, Datuk Pawang Marga putera Ki Bagang yang berdiam
di swarnabhumi sebelah utara, Ki Bagang putera Datuk Waling yang berdiam di Pulau Hujung Mendini, Datuk Waling putera Datuk Banda, ia berdiam di dukuh tepi sungai, Datuk Banda putera Nesan, yang berasal dari Langkasungka. Sedangkan Nenek moyangnya berasal dari negeri Yawana sebelah barat.

Setelah menikahkan anaknya Pohaci Larasati dengan sorang pangeran pelarian dari India yang berilmu tinggi, Dewawarman, maka keturunan Aki tirem inilah yang oleh Ridwan Saidi disebut sebagai manusia proto betawi. dan terus berkembang sampai sekarang sebagai etnis yang mendiami wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Harap Maklum dan Indahkan, Inti Sinergitas sebuah Gerakan

Bicara soal organisasi, maju tidaknya sebuah organisasi, setidaknya dapat kita lihat dari 5 (lima) faktor sebagai tolak ukur awal. Pertama, leadership sang Ketua. Kedua, kemampuan menejerial atau motor penggerak organisasi yang menjadi tanggung jawab Sekretaris. Ketiga, transparansi dana yang dipegang Bendahara. Keempat, dukungan penuh dari anggota yang ada. Dan kelima, kunci keberhasilannya tentu saja terletak pada sinerjitas (kekompokan) dari elemen yang ada. Mulai dari Ketua, Sekretaris, Bendahara, Ketua Departemen/Seksi, anggota dan simpatisan yang masing-masing paham dengan tugas yang diemban sehingga mampu berpikir secara proposional dan bekerja secara profesional sesuai dengan jabatan yang disandangnya.

ORANG Betawi (ape tokoh Betawi?) lagi doyan-doyannya berorganisasi. Kurang percaya? Tengok aja daftar Ormas Betawi yang bernaung di BAMUS Betawi. Lebih dari 100 Ormas Betawi, cing! Itu belum ditambah ama Ormas Betawi yang kagak daftar ke BAMUS Betawi. Kalo kita jumlain, Ormas Betawi yang ada di Tanah Betawi yang kini bernama Jakarta jumlahnya emang bejibun. Buanyak banget! Cuman sayangnya, dari bejibunnya Ormas Betawi yang ada, yang aktif bergerak dan kelihatan dinamikanya gak lebih dari jumlah jari tangan kita yang sebelah kanan, atau sebelah kiri.

Tragis? Itu realitanya. Makanya, gak berlebihan kalau ada seorang tokoh muda Betawi yang berpendapat; orang Betawi emang pandai membuat organisasi, tetapi tidak pandai menata dan membuat jaringan. Buktinya, cuma ada sedikit Ormas Betawi yang aktif bergerak dan kelihatan dinamikanya itu pun berjalan pada rel masing-masing. Tanpa ada sinergitas dan jaringan yang kuat. Yang ada pan malah ribut melulu lantaran berebut lahan parkir! Eit, kepala boleh aja panas, tetapi hati kudu tetap dingin.

Dari realitas di atas timbul pertanyaan; bagaimana agar Ormas Betawi yang ada –baik berpayung atau tidak di BAMUS Betawi—dapat bergerak optimal dalam merealisasikan visi misinya yang berarti juga berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara? Langkah awal yang patut kita lakukan, apapun jabatan dan posisi kita dalam ormas yang kita geluti, adalah mengkaji ulang dengan penuh kejujuran apa motivasi awal kita sehingga kita mau aktif bergelut dalam ormas tersebut. Benar-benar aktif karena ingin menjadi bagian dari gerakan besar dan mulia untuk mengangkat harkat dan martabat kaum Betawi, atau cuma menjadikan ormas tersebut sebagai kendaraan untuk memenuhi kepentingan pribadi atau menggapai cita-cita pribadi?

Baca pos ini lebih lanjut

Kaum Betawi Harus militan

Agus Yahya

Ada yang berpendapat menghimpun orang Betawi memang tidak mudah, menyatukannya juga sangat sulit. Dan hal tersulit adalah menyatukan dan menyamakan persepsi. Namun, pendapat itu ditepis oleh Tokoh Betawi asal Setia Budi, yang juga Ketua Dewan Kelurahan (Dekel) Setia Budi Agus Yahya. Menurutnya mempersatukan kaum Betawi untuk menjadi militan tidalah sulit. Yang penting cara atau kiatnya tepat. Tidak asal menghimpun dan menyatukannya. Untuk  mempersatukan kaum Betawi cara yang ditempuh harus dimulai dari perekrutan, pembinaan, pendidikan mental, serta pengetahuan tentang sejarah Betawi yang harus diberikan sejak dini. Semua itu harus diberikan dari tingkat Rt, RW, Kelurahan, dan seterusnya.

Baca pos ini lebih lanjut

Turnamen Sepak Bola Forkabi Cup I DPC Forkabi Palmerah

Minggu (23/5) bertempat di lapangan Wijaya Kusuma (Romsol), Kemanggisan, Jakarta Barat, Turnamen Sepak Bola Forkabi Cup I yang diadakan oleh DPC Forkabi Kec. Palmerah dalam rangka menyambut HUT DKI Jakarta ke-483 resmi dibuka. Wakil Walikota Jakarta Barat Drs. H. Suparno, MM membuka secara resmi turnamen tersebut didampingi Sekjen DPP Forkabi H. Latief HM, Direktur LBH Forkabi H. Zamakh Sari, SH, MH, Dewan Penasehat DPP Forkabi H. Toton Bachtiar, Camat Palmerah Hatoya, S.Sos, Ketua DPD II Partai Golkar Jakarta Barat Hj. Siti Jaojah, Kapolsek, Koramil serta ormas kepemudaan Pemuda Pancasila Jakarta Barat beserta jajarannya.

Baca pos ini lebih lanjut

Lima Langkah dalam Memajukan Forkabi

Tegas bersikap serta mempunyai komitmen dan idealis tinggi dalam setiap aktifitas yang dijalani membuat Muhammad Hanapi, yang akrab disapa Mat Uca, disegani banyak orang khususnya para tokoh Betawi maupun etnis lain yang ada di wilayah Jakarta Barat. Rasa sosialnya yang tinggi dalam rangka menjalankan niatnya untuk bisa mengangkat harkat martabat kaum Betawi di tanah kelahirannya membawanya aktif dalam wadah organisasi etnis yang bernama Forum Komunikasi Anak Betawi (Forkabi).

Mat Uca dan Istri

Ketertarikannya pada Forkabi, tambah Mat Uca, dikarenakan Forkabi adalah ormas etnis yang independent. Artinya, Ormas etnis yang tidak berapiliasi pada satu partai politik mana pun dan hanya punya satu niat merealisasikan visi misi untuk mengangkat harkat martabat kaum Betawi. “Di samping itu Forkabi sebagai ormas juga mempunyai kepedulian terhadap lingkungan dan anti dengan yang namanya anarkis,” papar Mat Uca yang dipercaya menjabat sebagai Ketua DPC Forkabi Kecamatan Palmerah.

Baca pos ini lebih lanjut

Tak akan Jadi Penonton dalam Pilkada Tangsel

Kembang Latar adalah Ormas Betawi yang sejarahnya dahulu  dimulai dari Paguyuban Jawara se-Jabodetabek. Kemudian berganti nama menjadi Kembang Latar atas prakarsa Bu Hajjah Betty. Secara resmi Ormas yang ‘dikomandani’ Bang Haji Bahyuddin, yang karib disapa Bang Haji Black, berdiri sejak tanggal 9 September 1991. Para tokoh pendirinya antara lain : Alm. Nirwan Jaya, H. Bendot, Subari, Ama Mashur, dan Persada Ginting. Sampai kini Kembang Latar yang punya motto: “Seribu Kawan Masih Kurang, Satu Musuh Kebanyakan” terus beraktivitas mengepakkan sayap organisasi sebagai langkah konkret berkontribusi demi kemajuan bangsa dan negara.

H. Bahyudin

Dalam menghadapi pemilihan kepala daerah (Pilkada) Tangeran Selatan (Tangsel) Kembang Latar sebagai salah satu Ormas Betawi tidak hanya akan menjadi penonton. Tetapi akan berperan aktif demi suksesnya pesta demokrasi tersebut dan memenangkan calon yang didukung Ormas Kembang Latar. Demikian ujar Ketua Umum DPP Kembang Latar se-Jabodetabek Bang H. Bahyuddin yang karib disapa Bang H. Black saat memberikan sedikit pernyataan sikap resmi Ormas Kembang Latar menjelang Pilkada Tangsel.

Baca pos ini lebih lanjut

MAKAM ‘MBAH PRIOK’ MILIK UMAT

Rangkaian peristiwa paska Tragedi Koja masih menjadi perhatian publik. Antara kebijakan, pelaksanaan kebijakan serta keberpihakan kebijakan Pemprov. DKI Jakarta, dan terakhir kesimpulan serta pertanggungjawaban atas pelaksanaan kebijakan yang dimaksud masih ditunggu masyarakat.

KH. Luthfi Hakim, MA. Ketum Forum Betawi Rempug

Aspek penilaian masyarakat Betawi khususnya dan penduduk Jakarta umumnya terhadap kondite pemprov dalam keberpihakan kebijakan itu sendiri menjadi hal yang sangat mendasar dalam masalah ini. Secara khusus, Ketua Umum atau Imam Besar Forum Betawi Rempug (FBR) KH. Luthfi Hakim, MA memberikan pernyataannya kepada Fadilah Fahmi dan Dendi J. Kurniawan dari Batavia News, majalah Betawi atu-atunya, mengenai pandangan serta peranan FBR sebagai salah satu elemen Betawi dalam menjaga eksistensi seni budaya dan peradaban kaum Betawi. Tujuannya, agar kaum Betawi bisa menjadi juragan di kampung halamannya sendiri.

Baca pos ini lebih lanjut